Menu

Mode Gelap
Ketua Komite III DPD RI Minta Pemerintah Beri Perhatian Lebih kepada Dosen PTS di Wilayah 3T Sekjen DPD RI Dorong Budaya Evaluasi untuk Perkuat Kinerja Birokrasi HUT ke-4 Papua Tengah Jadi Titik Awal Program BANGKIT untuk Generasi Sehat Papua DPD RI Perkuat Budaya Pelayanan Publik Melalui Data Akurat dan SDM Profesional Gubernur Meki Nawipa Siapkan Program “Bangkit Papua Tengah” untuk Percepat Penanganan 1.000 Balita Berisiko Stunting DPD RI Dorong Pengesahan RUU Daerah Kepulauan untuk Wujudkan Keadilan Pembangunan Maritim

Headline

Peternak Babi di Mimika Desak Pemda Buka Akses Pasar dan Hentikan Daging Beku dari Luar

Etty Welerbadge-check


					Peternak Babi di Mimika Desak Pemda Buka Akses Pasar dan Hentikan Daging Beku dari Luar Perbesar

TIMIKA – Ratusan peternak babi yang tergabung dalam Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika mengevaluasi kebijakan pengiriman ternak babi hidup dan daging beku keluar daerah.

Ketua Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Calvin Arrung, mengatakan kebijakan pembatasan pengiriman membuat peternak kesulitan menjual ternak, sementara populasi babi di kandang terus bertambah.

“Kita punya sekitar 400 peternak yang selama ini kita bina. Mereka sekarang kesulitan menjual ternaknya karena ada pembatasan pengiriman,” kata Calvin kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut semakin berat karena daging beku dari luar daerah masih masuk ke Timika, di antaranya dari Surabaya dan Bali.

IMG 20260813 WA0094

Calvin menilai kebijakan tersebut justru membuat uang masyarakat Mimika mengalir keluar daerah, sementara peternak lokal tidak mendapatkan ruang untuk mengembangkan usahanya.

“Kita punya ternak di Timika, tetapi kenapa daging beku dari luar masih dimasukkan? Ini sangat memukul peternak karena ternak menumpuk di kandang, sementara uang kita justru keluar,” keluhnya.

Ia mengatakan salah satu dampak pembatasan tersebut adalah peternak terpaksa menjual babi dengan harga rendah. Bahkan, sebagian masyarakat memilih memotong ternak dan menjual daging secara langsung dari rumah karena tidak memiliki akses pasar yang memadai.

Calvin menegaskan peternak tidak menolak aturan pemerintah, namun meminta kebijakan yang dibuat tidak justru mematikan usaha masyarakat lokal.

“Babi terus makan, pakan harus dibeli, tetapi ternak tidak terjual. Kalau sudah terlalu besar atau afkir, biaya pemeliharaannya semakin tidak ekonomis. Akhirnya kita terpaksa jual rugi,” katanya.

Adapun komunitas peternak menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya membatalkan rekomendasi pengiriman babi hidup dan daging beku yang dinilai menyulitkan peternak, membuka akses pengiriman ternak dan daging secara adil, serta menghentikan sementara pemasukan daging beku dari luar Timika ketika stok lokal masih melimpah.

Mereka juga meminta pemerintah tidak melarang masyarakat menjual daging dari gerai atau tempat usaha milik pribadi selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

Selain itu, peternak mendorong Pemkab Mimika mengundang investor untuk membangun industri pakan ternak di Timika dengan dukungan subsidi pemerintah.

Calvin menilai keberadaan industri pakan akan membantu menekan biaya produksi sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Potensi peternakan babi di Timika besar. Kalau didukung dengan pakan yang berkualitas dan harga terjangkau, ini bisa menghidupkan ekonomi keluarga dan sektor usaha masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Koperasi Konsumen Komunitas Peternak Babi Mimika, Steven Rantung mengatakan persoalan pemasaran menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi peternak saat ini.

Ia berharap RDP bersama DPRD Mimika yang akan berlangsung hari ini dapat menghasilkan solusi konkret sehingga peternak tidak terus mengalami kerugian.

Menurut Steven, peternak membutuhkan kepastian pasar agar usaha yang selama ini menjadi sumber pendapatan keluarga tetap bisa berjalan.

“Kami berharap ada kebijakan yang benar-benar berpihak kepada peternak lokal. Jangan sampai ternak kami ada di Timika, tetapi kami kesulitan menjual, sementara produk dari luar justru masuk,” kata Steven.

Ia menambahkan, keberlangsungan usaha peternakan juga berkaitan langsung dengan kebutuhan keluarga peternak, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Steven berharap pemerintah dan DPRD Mimika dapat mencari jalan keluar yang tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga memberikan kepastian bagi pengembangan peternakan babi di Mimika. (Cr1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ekspor Kepiting Bakau Papua Tengah Capai Rp1,7 Miliar, Naik 41,67 Persen

14 Agustus 2026 - 16:05 WIB

IMG 20260814 WA0033

Dorong Layanan Kesehatan Berkualitas, Pemkab Mimika Kaji Penerapan BLUD di Tujuh Puskesmas

14 Agustus 2026 - 16:01 WIB

IMG 20260814 WA0023

Simon Mote: Sukarelawan Berperan Penting dalam Rehabilitasi Rumah Korban Bencana

14 Agustus 2026 - 15:57 WIB

IMG 20260814 WA0015

Hari Juang Polri, Polres Mimika Buka Kesempatan Anak Jadi Kapolres Sehari

14 Agustus 2026 - 15:03 WIB

IMG 20260814 WA0014

Panitia HUT RI ke-81, Distrik Mimika Barat Tengah Sukses Gelar Lomba Cerdas Cermat Pelajar

14 Agustus 2026 - 12:46 WIB

IMG 20260814 214517
Trending di Headline