NABIRE — Musim kemarau panjang yang berlangsung hampir tiga bulan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mulai memicu munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat masyarakat di beberapa wilayah harus menghadapi kepulan asap tebal yang menyelimuti lingkungan permukiman.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah laporan media dan perkembangan di lapangan, kebakaran terjadi di beberapa lokasi, di antaranya kawasan sekitar Bandara Baru Nabire, wilayah Wami, Distrik Nabire Barat, hingga sejumlah titik lainnya di sekitar Kota Nabire.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau yang berkepanjangan membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Salah satu kebakaran terjadi di wilayah Distrik Nabire Barat pada Jumat, 21 Agustus 2026 sekitar pukul 14.00 WIT. Menyikapi kejadian tersebut, Polda Papua Tengah bergerak cepat dengan mengerahkan personel gabungan bersama Satuan Brimob untuk melakukan penanganan dan pemadaman di lokasi.
Personel langsung menuju titik kebakaran dengan membawa perlengkapan pendukung pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas dan meminimalisir dampak terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar.

Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jermias Rontini, S.I.K., M.Si. menegaskan jajaran Polda Papua Tengah akan terus memberikan respons cepat terhadap setiap kejadian yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat dan lingkungan.
“Kami bergerak cepat untuk memastikan kebakaran dapat segera ditangani. Personel telah kami kerahkan bersama unsur terkait untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas,” ujar Jermias.
Selain melakukan pemadaman, personel di lapangan juga melakukan pemantauan perkembangan titik api serta berkoordinasi dengan instansi terkait dan masyarakat setempat.
Kota Nabire Mulai Diselimuti Asap
Kebakaran yang muncul di tengah kemarau panjang turut berdampak pada kondisi udara di sejumlah wilayah Nabire. Kepulan asap tebal dilaporkan terlihat di beberapa kawasan, termasuk sekitar Wami, Nabire Barat, dan kawasan perkotaan Nabire.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama apabila kebakaran terus meluas dan asap bertahan dalam waktu lama.
Dengan kondisi kemarau yang telah berlangsung hampir tiga bulan, kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu ditingkatkan. Pemerintah daerah, aparat keamanan, masyarakat serta pihak terkait dinilai perlu memperkuat pemantauan terhadap wilayah yang rawan terbakar.
Polda Papua Tengah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara sembarangan.

Masyarakat yang menemukan titik api atau kepulan asap di sekitar lingkungannya diminta segera melaporkan kepada aparat atau instansi terkait agar dapat ditangani sebelum api meluas.
Kondisi kemarau panjang di Nabire menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat.
Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas, menjaga kualitas lingkungan, serta melindungi masyarakat dari dampak asap dan potensi gangguan aktivitas sehari-hari. (MB)







