Menu

Mode Gelap
HUT ke-4 Papua Tengah Jadi Titik Awal Program BANGKIT untuk Generasi Sehat Papua DPD RI Perkuat Budaya Pelayanan Publik Melalui Data Akurat dan SDM Profesional Gubernur Meki Nawipa Siapkan Program “Bangkit Papua Tengah” untuk Percepat Penanganan 1.000 Balita Berisiko Stunting DPD RI Dorong Pengesahan RUU Daerah Kepulauan untuk Wujudkan Keadilan Pembangunan Maritim Perkuat Layanan Kesehatan di Pedalaman, Wilhelmus Pigai Serahkan Bantuan Obat Kemenkes RI ke Puskesmas Wangbe 700 Pelari Meriahkan Bhayangkara Fun Run 5K, Wujud Sinergi Polda Papua Tengah dan DPD BMP RI

Headline

Mubeslub Totaa Mapihaa Didorong Segera Digelar, Perempuan Minta Dilibatkan dalam Pengambilan Keputusan Tanah Adat

Etty Welerbadge-check


					Mubeslub Totaa Mapihaa Didorong Segera Digelar, Perempuan Minta Dilibatkan dalam Pengambilan Keputusan Tanah Adat Perbesar

NABIRE – Berbagai elemen masyarakat Totaa Mapihaa mendorong percepatan pelaksanaan Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) sebagai forum strategis untuk membahas masa depan masyarakat adat, perlindungan wilayah adat, serta peran generasi muda dan perempuan dalam menjaga tanah leluhur.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan nonton bersama dan diskusi film Pesta Babi yang berlangsung di Nabire, Sabtu (13/6/2026).

IMG 20260614 WA0010

Tim Perumus Materi Mubeslub Totaa Mapihaa, Otopianus Tebai, menegaskan bahwa Mubeslub bukan agenda politik, melainkan ruang bersama untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Totaa Mapihaa secara menyeluruh.

“Kita akan membicarakan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, masyarakat adat, dan berbagai persoalan lainnya yang menyangkut masa depan Totaa Mapihaa,” katanya.

Menurut Otopianus, forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat saat ini maupun di masa mendatang.

Sementara itu, Bernadetha Tekege menilai Mubeslub merupakan agenda yang mendesak karena masyarakat membutuhkan ruang bersama untuk menyusun langkah perlindungan terhadap tanah, hutan, air, gunung, serta seluruh sumber daya alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat.

Selain membahas pentingnya Mubeslub, diskusi juga menyoroti perlunya keterlibatan perempuan dalam berbagai proses pengambilan keputusan terkait tanah adat dan lingkungan hidup.

Dalam sesi diskusi, Theresia Tekege menegaskan bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling merasakan dampak ketika hutan dan lingkungan mengalami kerusakan. Menurutnya, kehidupan perempuan Papua sangat bergantung pada keberadaan alam karena mereka mengambil air, berkebun, mencari makanan, dan membesarkan anak-anak dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Ketika hutan rusak dan tanah hilang, perempuan yang pertama kali merasakan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai perempuan masih belum memperoleh ruang yang memadai dalam berbagai forum pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tanah adat.

Pandangan serupa disampaikan Fransiska Edowai. Ia mengatakan masih terdapat anggapan bahwa perempuan hanya bertugas di rumah dan tidak perlu terlibat dalam urusan-urusan penting masyarakat. Padahal, menurutnya, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam menjaga masa depan tanah adat dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Karena itu, perempuan perlu diberikan kesempatan yang setara untuk menyampaikan pendapat serta terlibat dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat adat.

Berbagai peserta diskusi juga berharap Mubeslub nantinya melibatkan lebih banyak organisasi masyarakat sipil, akademisi, gereja, intelektual, tokoh adat, serta lembaga pendamping agar pembahasan yang dilakukan menjadi lebih komprehensif dan menghasilkan rekomendasi yang kuat.

Pada akhir kegiatan, peserta menyepakati sejumlah rekomendasi, di antaranya percepatan pelaksanaan Mubeslub Totaa Mapihaa, penguatan konsolidasi masyarakat adat, pendokumentasian sejarah wilayah adat, serta peningkatan peran perempuan dan pemuda dalam menjaga tanah, lingkungan hidup, dan masa depan Totaa Mapihaa.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, foto bersama, serta penyampaian laporan sumbangan sukarela sebesar Rp455.000 yang akan digunakan untuk mendukung persiapan pelaksanaan Mubeslub Totaa Mapihaa. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Evakuasi Korban Serangan OPM di Yahukimo, Sempat Terlibat Kontak Tembak

23 Juli 2026 - 13:38 WIB

IMG 20260723 WA0036

Pelajar Deiyai Tampil Percaya Diri, Raih Prestasi di English Competition

23 Juli 2026 - 13:25 WIB

IMG 20260723 WA0032

Mahasiswa Intan Jaya Serahkan Pernyataan Sikap ke DPR Papua Tengah, Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM

23 Juli 2026 - 13:20 WIB

IMG 20260723 WA0027

FKIP USWIM Nabire Bekali 16 Mahasiswa Calon Guru, Wujudkan Lulusan Profesional Selaras Visi Kampus

23 Juli 2026 - 13:11 WIB

IMG 20260723 WA0019

Meriahkan HAN 2026, Ratusan Pelajar TK di Timika Ikut Karnaval Budaya 

23 Juli 2026 - 13:03 WIB

IMG 20260723 WA0034
Trending di Headline