TIMIKA – Bupati Mimika, Johannes Rettob mengungkapkan, saat ini Aroanop dan Tsinga, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah sedang mengalami kekeringan yang luar biasa. Persediaan air sudah sangat menipis, hingga masyarakat tidak bisa berkebun.
Menurut Johannes, bantuan bahan makanan saat ini telah disiapkan dan akan didistribusikan ke dua kampung ini. Namun, pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan PT Freeport Indonesia terkait akses dan transportasi, mengingat wilayah Aroanop dan Tsinga berada di area perusahaan.
“Wilayah tersebut ada di area PT Freeport, sehingga kita harus koordinasi terkait transportasi. Kami sudah siap melakukan tapi kita harus koordinasi dulu. Bahan makanan semua sudah siap, tinggal kita drop saja,” kata Johannes Rettob saat diwawnacarai usai apel pagi, Senin (31/08/2026).
Selain menyalurkan bantuan, Pemkab Mimika juga akan mengirimkan tim untuk melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan sekaligus mendata kebutuhan yang diperlukan.
Johannes mengatakan, sejauh ini baru Arwanop dan Tsinga yang melaporkan kondisi kekeringan. Pemerintah daerah masih menunggu laporan dari seluruh kepala distrik untuk mengetahui kemungkinan adanya wilayah lain yang mengalami persoalan serupa.
“Katanya situasi di sana sudah kering, jadi mereka tidak bisa berkebun. Kalau tidak salah hari ini atau besok itu ada tim yang turun ke sana untuk lihat bagaimana perkembangan semua, apa saja yang dibutuhkan masyarakat,” terangnya.
Sementara itu, persoalan berbeda terjadi di Distrik Agimuga. Kekeringan menyebabkan air sungai mengering sehingga mengganggu aktivitas transportasi masyarakat dan distribusi barang.
Johannes menjelaskan, kondisi tersebut membuat pengangkutan barang melalui jalur sungai tidak dapat dilakukan secara normal. Pemerintah kemudian menyiapkan solusi sementara dengan mengangkut barang menggunakan kapal besar hingga Fakafuku.
Dari Fakafuku, barang kemudian dipindahkan ke perahu berukuran lebih kecil untuk selanjutnya dibawa menuju Kiliarma.
“Persoalan di Agimuga berbeda. Itu yang kering adalah sungainya. Sehingga tidak bisa ada drop bawa barang ke sana, beras apa-apa itu tidak bisa. Masyarakat tidak bisa bolak-balik,” terangnya.
Meski sudah ada skema alternatif untuk distribusi logistik, Johannes berharap hujan segera turun di wilayah tersebut agar kondisi sungai kembali normal dan aktivitas transportasi masyarakat dapat berjalan seperti biasa. (Cr2)







