NABIRE – Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Dr. Petrus Tekege, SH., MH., mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama pemerintah di delapan kabupaten, dinas terkait, serta TNI-Polri agar meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara profesional dan tepat sasaran.
Desakan tersebut disampaikan Rektor Petrus Tekege menyusul kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara berturut-turut dalam beberapa hari terakhir dan menyebabkan sejumlah wilayah Nabire yang menjalar sampai kabupaten Dogiyai distrik Mapia Barat dan sejumlah distrik lainnya diselimuti asap tebal.
Dalam keterangannya kepada awak media melalui sambungan telepon seluler, Minggu, (23/8/2026), Rektor Uswim meminta pemerintah tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga memastikan titik-titik panas dapat ditangani secara cepat dan terukur dengan menggunakan helikopter pada wilayah gunung-gunung yang tidak dapat dijangkau dangkar.
Menurutnya, kondisi asap akibat karhutla perlu menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat meliputi gangguan kesehatan, termasuk akses pendidikan bagi anak-anak sekolah. Untuk beberapa bulan kedepan menurutnya diatur pengaturan waktu terbatas waktu dan jam sekolahnya untuk antisipasi ISPA sambil disiapkan secara massal pengadaan masker.
“Penanganan kebakaran oleh pemerintah daerah maupun pemerintah kabupaten harus lebih profesional. Titik-titik kebakaran harus menjadi sasaran utama penanganan,” tegasnya
Ia juga meminta pemerintah memperhatikan dampak asap terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Salah satu langkah yang dinilai perlu dilakukan adalah pembagian masker serta penyediaan vitamin untuk membantu menjaga kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak asap.
Akademisi asal Papua Tengah itu menilai gangguan akibat karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat apabila asap terus menyelimuti permukiman dan wilayah pelayanan publik.
Karena itu, ia mendorong koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dinas teknis, TNI-Polri, serta masyarakat diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara terpadu.
Di sisi lain, Tekege mengimbau masyarakat Papua Tengah untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan hutan secara sembarangan, terutama di tengah kondisi rawan kebakaran.
Ia mengingatkan bahwa pembakaran lahan bukan solusi untuk mendatangkan hujan. Sebaliknya, jika api tidak terkendali, dampaknya justru dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mempersulit akses masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Masyarakat diimbau jangan membakar lahan dan hutan sembarangan. Membakar bukan berarti mengundang hujan, tetapi justru dapat mempersulit akses kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Kami mendukung pemerintah daerah provinsi dan kabupaten untuk tingkatkan kerjasama dan pihak lainnya untuk masa kritis ini, pungkasnya.
Selain itu rektor Uswim juga mendesak pemerintah antisipasi kesiapan bencana pasca kekeringan ini nanti terkait potensi hujan dan banjir dibulan Desember nanti.(MB)






