TIMIKA — Upaya menghadapi perubahan iklim di Kabupaten Mimika mulai diperkuat melalui pengumpulan dan pengelolaan data emisi gas rumah kaca dari berbagai sektor. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika menggelar sosialisasi pengendalian emisi gas rumah kaca sekaligus memperkenalkan sistem penginputan data inventarisasi melalui aplikasi SIGN-SMART, Senin (23/8/2026).

Sosialisasi tersebut menjadi langkah awal untuk membangun basis data emisi yang lebih terukur, sehingga pemerintah dapat mengetahui sumber emisi sekaligus menentukan langkah pengendaliannya.
Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Mimika, Algertho Asmuruf, mengatakan pengendalian perubahan iklim membutuhkan dukungan data dari berbagai sektor yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca.
“Ini bertujuan untuk penanganan perubahan iklim, baik melalui adaptasi maupun mitigasi. Karena itu, kita membutuhkan data dari berbagai sumber,” kata Algertho.
Menurutnya, sejumlah sektor yang akan terlibat antara lain kehutanan, perhubungan, pertanian dan perindustrian. Masing-masing sektor memiliki aktivitas yang dapat menjadi sumber emisi sehingga datanya perlu dihimpun secara terpadu.

DLH Mimika juga membentuk kelompok kerja (Pokja) yang nantinya terlibat dalam penginputan data melalui aplikasi SIGN-SMART. Data dari masing-masing sektor akan dikumpulkan, kemudian diverifikasi dan dianalisis oleh DLH sebagai sektor yang bertindak sebagai leading sector.
Data tersebut mencakup berbagai informasi, seperti luas kawasan hutan, kejadian kebakaran hutan hingga jumlah dan jenis kendaraan bermotor yang berpotensi menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂).
“Data-data misalnya luasan hutan, kebakaran hutan, kemudian data kendaraan sesuai tipe masing-masing karena menghasilkan gas CO₂. Dari hasil kajian, kita bisa mengetahui tingkat pencemarannya, apakah berat atau ringan,” jelasnya.
Algertho menjelaskan, gas rumah kaca merupakan gas yang dihasilkan dari berbagai aktivitas, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia. Karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) merupakan dua jenis gas yang berperan dalam peningkatan efek rumah kaca dan pemanasan global.
Karena itu, hasil inventarisasi nantinya tidak berhenti pada pengumpulan data. Informasi tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan dan langkah konkret untuk menekan dampak pencemaran serta emisi dari berbagai sektor.
“Setelah kita mengetahui tingkat dampaknya, baru kita bisa menentukan solusi apa yang harus diterapkan untuk mengurangi dampak pencemaran tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan lingkungan akibat perubahan iklim mulai dirasakan masyarakat, termasuk berkurangnya ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bahwa perubahan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga kehidupan masyarakat.
“Kalau dulu sumber air terasa dekat, sekarang masyarakat harus mencari sumber air yang lebih jauh. Ini menjadi salah satu gambaran dampak perubahan kondisi lingkungan yang kita rasakan,” pungkasnya. (Cr2)







