NABIRE — Penguatan nilai adat dan agama menjadi sorotan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pemuda Katolik Komisariat Daerah Papua Tengah. Kegiatan ini menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga identitas budaya dan spiritual di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua Tengah, Ignatius Robertus Adii, yang mewakili Keuskupan Timika, menegaskan bahwa adat dan agama merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda Papua.
“Orang tua dulu memegang dua hal, yaitu adat dan agama. Itu yang menjaga kehidupan mereka. Sekarang banyak generasi muda mulai kehilangan nilai-nilai tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, adat mengandung amanah moral yang diwariskan secara turun-temurun, sementara agama menjadi pedoman hidup yang menuntun manusia dalam menjalankan kehendak Tuhan.
Menurutnya, melemahnya pemahaman terhadap kedua nilai tersebut berdampak pada meningkatnya berbagai persoalan sosial, seperti perilaku menyimpang, penyalahgunaan minuman keras, hingga menurunnya kualitas hidup generasi muda.
Ignatius juga menyoroti sistem pendidikan di Papua yang dinilai belum optimal dalam membentuk karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai dan ijazah, tetapi juga pada pembentukan manusia seutuhnya.
“Kalau pendidikan hanya mengejar nilai dan ijazah tanpa membentuk karakter, itu tidak akan menyelamatkan generasi kita,” tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk terus belajar sepanjang hayat dan tidak menjadikan jabatan atau status sosial sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Sementara itu, perwakilan Pemuda Katolik Pusat, Arnold Douw, selaku Sekretaris Bidang UMKM Pengurus Pusat, menekankan pentingnya peran pemuda dalam menghadapi tantangan era digital dan bonus demografi.
Menurutnya, organisasi kepemudaan harus mampu beradaptasi, bersikap progresif, serta membangun kolaborasi agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Pemuda Katolik tidak boleh menjadi penonton. Kita harus menjadi bagian dari perubahan, bahkan menjadi penggeraknya,” ujarnya.
Arnold juga mendorong penguatan kaderisasi melalui berbagai program strategis, seperti pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, serta pengembangan kapasitas di bidang jurnalistik, hukum, dan politik.
Dalam konteks Papua, ia menilai Pemuda Katolik perlu berperan aktif dalam merespons berbagai isu sosial, mulai dari konflik, ketimpangan, hingga persoalan lingkungan.
Ia mengusulkan pembentukan rumah konsultasi bantuan hukum serta satuan tugas (satgas) untuk mengawal isu-isu strategis di tengah masyarakat.
“Organisasi ini harus hidup, relevan, dan berdampak, tidak hanya bagi anggotanya tetapi juga bagi masyarakat luas,” katanya.
Rakerda Pemuda Katolik Papua Tengah ini menjadi momentum untuk menguatkan kembali peran pemuda sebagai agen perubahan yang berakar pada nilai adat dan agama, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dengan memadukan kekuatan nilai lokal dan kesiapan menghadapi era digital, generasi muda Papua Tengah diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam membangun masa depan daerah yang lebih baik. (MB)








