Menu

Mode Gelap
Natalius Pigai Soroti Insiden Berdarah di Papua Tengah, Minta Penyelidikan Menyeluruh Menteri HAM Tolak Pelaporan Jusuf Kalla, Dorong Penyelesaian Lewat Dialog Senator Papua Tengah Wilhelmus Pigai Soroti Temuan BPS: Penyaluran Bansos Harus Ketat Sesuai Kriteria Breaking News : Ruang Terpadu RSUD Paniai Terbakar Hangus DPD RI Dorong Percepatan RUU Bahasa Daerah, Ratusan Bahasa Terancam Punah Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin Raih Gelar Doktor Kehormatan dari KMOU

Headline

BMKG Nabire: Wilayah Papua Tengah Masuki Musim Peralihan Menuju Hujan

Etty Welerbadge-check


					BMKG Nabire: Wilayah Papua Tengah Masuki Musim Peralihan Menuju Hujan Perbesar

NABIRE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nabire menyampaikan bahwa kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Nabire dan Papua Tengah pada umumnya masih dipengaruhi oleh musim peralihan menuju musim hujan yang berlangsung pada periode Januari hingga Februari. Hal tersebut disampaikan Prakirawan Cuaca BMKG Nabire, Leo Arie Wibawa, S.Tr, Kamis (22/1/2026).

Leo menjelaskan, untuk kondisi cuaca hari ini, wilayah Nabire diprakirakan mengalami cuaca berawan pada pagi hingga siang hari. Sementara itu, pada malam hingga dini hari berpotensi terjadi awan tebal dengan peluang hujan lokal hingga hujan ringan sampai sedang.

“Memasuki Januari–Februari, Nabire sudah berada pada fase peralihan ke musim hujan, sehingga terjadi peningkatan intensitas curah hujan, khususnya di wilayah pesisir dan pegunungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada periode peralihan ini sering terbentuk awan-awan konvektif yang dapat memicu hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Secara klimatologis, wilayah Nabire termasuk dalam kategori non-zonal, yakni wilayah yang tidak memiliki perbedaan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau.

“Cuaca di Nabire sangat dipengaruhi oleh sistem angin darat dan angin laut, sehingga peluang hujan tetap ada hampir sepanjang tahun,” jelas Leo.

Berdasarkan data iklim historis, Kabupaten Nabire diketahui memiliki tiga puncak musim hujan, yaitu pada periode Februari–Maret, Juni–Juli–Agustus, serta Oktober–November. Meski demikian, perbedaan antara musim hujan dan kemarau di wilayah ini tidak terlalu signifikan.

Terkait cuaca ekstrem yang terjadi pada malam sebelumnya, Leo menjelaskan bahwa hujan lebat disertai angin kencang dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus. Awan tersebut terbentuk akibat proses konveksi yang intens dan berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat, petir, serta angin kencang.

“Pada saat proses pembentukan dan peluruhan awan Cumulonimbus, biasanya akan disertai angin kencang dan hujan lebat seperti yang terjadi semalam,” pungkasnya.

BMKG Nabire mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama pada malam hingga dini hari, serta terus memantau dan memperhatikan informasi cuaca terbaru yang dikeluarkan oleh BMKG. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Lantik Perempuan Pertama Deiyai Jadi Pj Kepala Kampung Wagomani 

20 April 2026 - 10:01 WIB

IMG 20260420 WA0109

TNI-Polri Dipersiapkan Amankan Kunjungan Wapres di Timika

20 April 2026 - 09:41 WIB

IMG 20260420 WA0068

DPD RI Dorong Rekomendasi Kebijakan Pendidikan dan Kesehatan Papua Tengah Berbasis Data Akurat

20 April 2026 - 09:38 WIB

IMG 20260420 WA0054

Apel Gabungan, Bupati Melkianus Tegaskan Kembali Soal Disiplin Kinerja dan Tunjangan ASN 

20 April 2026 - 09:27 WIB

IMG 20260420 WA0050

Pemkab Mimika Resmikan Dua Rumah Dinas Kejari, Nilai Proyek Rp1,5 Miliar

19 April 2026 - 13:22 WIB

IMG 20260419 WA0017
Trending di Headline