NABIRE — Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Tengah, Freny Anouw, menyoroti tingginya angka kasus HIV/AIDS di wilayahnya, khususnya di Kabupaten Nabire yang tercatat sebagai daerah dengan jumlah penderita tertinggi, mencapai 10.494 kasus. Jumlah tersebut hanya mencakup warga yang sudah terdata, sementara masih banyak yang belum menjalani pemeriksaan.
“Ini yang sudah terdaftar. Belum termasuk yang belum periksa,” ungkap Freni dalam keterangannya pada Jumat (9/5/2025).
Untuk mengatasi permasalahan ini, KPA Papua Tengah telah merancang sejumlah program strategis yang telah dimasukkan ke dalam agenda Musrenbang.
Program-program ini mencakup kerja sama lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan dan P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit), terutama dalam pengendalian malaria, TBC, dan HIV.
Salah satu fokus utama adalah edukasi di lingkungan sekolah. KPA akan menggagas pembelajaran khusus tentang HIV/AIDS yang dimasukkan ke dalam materi sekolah.
“Kami sedang siapkan buletin atau pamflet agar siswa bisa membaca dan mendapat pengetahuan secara terus menerus, tidak hanya lewat sosialisasi singkat,” jelasnya.
Freni juga mengusulkan agar persyaratan masuk SMA dari SMP diubah dari surat keterangan sehat umum menjadi surat keterangan pemeriksaan HIV dari KPA. Hal ini diharapkan bisa menjadi langkah awal deteksi dini sejak usia remaja.
Selain sekolah, KPA juga menargetkan tempat hiburan sebagai sasaran sosialisasi.
“Banyak anak muda yang terjerat pergaulan bebas di tempat hiburan. Edukasi harus menyentuh tempat-tempat itu,” tegas Freni.
Selanjutnya, gereja menjadi wadah penting untuk pembinaan iman sebagai langkah preventif. Melalui mimbar gereja, KKR, dan kegiatan keagamaan lainnya, KPA mendorong penyebaran nilai moral dan iman untuk mencegah perilaku berisiko.
Untuk penanganan mereka yang sudah terinfeksi, KPA tengah mengupayakan pembangunan rumah persinggahan dan pemberian obat, termasuk pengobatan tradisional yang tetap diawasi secara medis.
“Kami berharap Papua Tengah bisa menjadi wilayah pertama yang menemukan solusi pengobatan HIV. Dunia perlu tahu bahwa Papua juga bisa,” katanya.
Freny menutup pernyataannya dengan mengimbau generasi muda Papua untuk hidup sehat, menjaga pergaulan, dan membangun kesadaran akan pentingnya iman serta nasihat orang tua dan guru.
“Papua ini untuk kita. Jangan biarkan masa depan kita dirusak oleh kurangnya pengetahuan dan iman. Hidup sehat, tetap bersama Tuhan,” pungkasnya. (MB)






