Oleh: Laurens Ikinia
TA Bapak Wilhelmus Pigai/Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta.
Perjalanan mengenal sosok besar bangsa ini dimulai dari sebuah ruang pengajaran dan literatur di Universitas Gadjah Mada (UGM). Suasana akademik yang khas terasa ketika rombongan tiba di lingkungan Departemen Hubungan Internasional UGM, Yogyakarta. Hari itu, suasana ruang seminar dipenuhi oleh semangat belajar para mahasiswa yang datang dari Jakarta. Mereka adalah peserta “Kelas Kunjungan Studi Domestik dan Internasional” Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memperluas wawasan akademik, tetapi juga untuk menyentuh kesadaran sejarah generasi muda melalui jejak kepemimpinan nasional.
Rombongan mahasiswa UKI didampingi oleh Kaprodi HI UKI Jakarta, Bapak Arthuur Jeverson Maya, S.Sos., M.A., serta penulis sendiri sebagai pendamping akademik. Kunjungan ini disambut hangat oleh jajaran Departemen HI UGM, dan puncak acara adalah paparan dari Kepala Program Studi Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Dr. Muhammad Rum. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun reflektif, Dr. Rum memaparkan materi tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX melalui berbagai catatan sejarah yang dipresentasikan secara edukatif. Melalui rangkaian materi yang ditampilkan, seluruh peserta diajak memahami bagaimana seorang raja, negarawan, pejuang kemerdekaan, sekaligus tokoh pendidikan memainkan peran besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Dr. Rum membuka paparannya dengan memperkenalkan latar belakang Sri Sultan Hamengkubuwono IX, mulai dari garis keturunan keraton, masa pendidikan di Eropa, hingga perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi bagi bangsa dan rakyat. Dari sini, menurut Dr. Rum, terlihat jelas bahwa beliau bukan hanya seorang pemimpin kerajaan tradisional, tetapi juga sosok modern yang memiliki pandangan jauh ke depan tentang masa depan Indonesia. Pendidikan Eropa-nya tidak menjadikannya terlepas dari akar budaya, justru memperkuat cara berpikir strategis dalam menyikapi kolonialisme dan pentingnya kemerdekaan.
Memasuki bagian sejarah perjuangan, Dr. Muhammad Rum menjelaskan dengan rinci bagaimana Hamengkubuwono IX mengambil sikap tegas mendukung Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ketika situasi politik dan keamanan Indonesia masih sangat tidak stabil, Yogyakarta dipilih menjadi salah satu pusat perjuangan nasional. Sang Sultan memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Republik Indonesia dan menjadikan wilayah Yogyakarta sebagai tempat yang aman bagi para pemimpin bangsa. “Ini bukan sekadar sikap politik,” ujar Dr. Rum, “ini adalah keberanian moral yang menggabungkan kedaulatan rakyat dan kearifan lokal.”
Salah satu bagian penting dalam dokumentasi yang dipaparkan Dr. Rum adalah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi simbol bagi dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri dan mampu melawan kekuatan kolonial. Dalam penjelasan yang ditampilkan, Hamengkubuwono IX memiliki peran sentral dalam mendukung operasi tersebut, termasuk menyediakan dukungan logistik, perlindungan, serta koordinasi strategis bagi para pejuang di lapangan. Serangan umum itu bukan hanya kemenangan taktis, tetapi juga kemenangan psikologis dan diplomatik yang menggugah dukungan internasional.
Lebih jauh, Dr. Rum memaparkan bahwa Yogyakarta pada masa itu menjadi pusat kegiatan rahasia dan gerakan perjuangan bawah tanah. Daerah Sleman dan berbagai wilayah lain di sekitar Yogyakarta dijadikan tempat pertemuan, persembunyian, dan koordinasi perjuangan. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan perang terbuka, tetapi juga melalui strategi, diplomasi, dan solidaritas rakyat yang terorganisir dengan baik. Sultan, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah dan tokoh nasional, mampu menjaga kerahasiaan sekaligus menggerakkan perlawanan tanpa menimbulkan kecurigaan besar dari pihak kolonial.
Narasi berikutnya dalam paparan Dr. Rum menampilkan peran Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Dalam masa yang penuh tantangan pasca-kemerdekaan, beliau membantu memperkuat pertahanan nasional sekaligus menjaga stabilitas negara yang baru berdiri. “Kepemimpinannya dikenal tenang, bijaksana, dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat,” tegas Dr. Rum. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi para mahasiswa HI bahwa diplomasi dan pertahanan tidak dapat dipisahkan, dan seorang negarawan harus mampu menjalankan keduanya secara seimbang.
Tidak hanya dalam bidang politik dan pertahanan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga memiliki perhatian besar terhadap pendidikan tinggi di Indonesia. Dr. Muhammad Rum dengan lugas menjelaskan bagaimana Sultan mendukung lahirnya dan berkembangnya Universitas Gadjah Mada sebagai pusat pendidikan nasional. UGM, menurut paparan tersebut, bukan hanya dibangun sebagai kampus, tetapi juga sebagai simbol harapan bagi kemajuan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Inilah bukti bahwa Sultan tidak hanya memikirkan kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan berpikir dan pendidikan bagi generasi masa depan.
Di bagian akhir presentasi, Dr. Rum memaparkan perjalanan politik Hamengkubuwono IX setelah masa perjuangan kemerdekaan. Beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Menteri Pertahanan, hingga Wakil Presiden Republik Indonesia. Semua jabatan tersebut, menurut Dr. Rum, menunjukkan besarnya kepercayaan bangsa kepada kepemimpinannya. Namun, yang paling mengesankan adalah bagaimana Sultan tetap rendah hati dan tidak pernah menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.
Kunjungan dan pembelajaran melalui paparan Dr. Muhammad Rum ini memberikan pesan penting bahwa perjuangan membangun bangsa tidak hanya dilakukan dengan kekuatan senjata, tetapi juga dengan pendidikan, integritas, keberanian mengambil keputusan, dan pengabdian kepada rakyat. Sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi teladan nyata tentang bagaimana seorang pemimpin dapat tetap rendah hati, berpikir jauh ke depan, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Melalui kisah ini, generasi muda—khususnya mahasiswa Hubungan Internasional UKI Jakarta—diajak untuk menghargai sejarah, mencintai pendidikan, serta memahami bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kerja keras, pengorbanan, dan persatuan banyak pihak. Semangat perjuangan tersebut tetap relevan hingga hari ini sebagai inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Seperti yang diingatkan oleh Dr. Rum di akhir paparannya: “Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dirawat nilai-nilainya dalam setiap langkah kebangsaan kita.”






