Menu

Mode Gelap
Gubernur Meki Nawipa Siapkan Program “Bangkit Papua Tengah” untuk Percepat Penanganan 1.000 Balita Berisiko Stunting DPD RI Dorong Pengesahan RUU Daerah Kepulauan untuk Wujudkan Keadilan Pembangunan Maritim Perkuat Layanan Kesehatan di Pedalaman, Wilhelmus Pigai Serahkan Bantuan Obat Kemenkes RI ke Puskesmas Wangbe 700 Pelari Meriahkan Bhayangkara Fun Run 5K, Wujud Sinergi Polda Papua Tengah dan DPD BMP RI OPINI : Menggugat ke PTUN Tak Cukup Bermodal Somasi TKT Group Timika Raih 15 Medali di Thyres Taekwondo Championship 2026

Headline

OPINI : Pemuda dan Arah Transformasi Mimika, Menguatkan Kolaborasi dalam Semangat Kritis dan Konstruktif

adminbadge-check


					OPINI : Pemuda dan Arah Transformasi Mimika, Menguatkan Kolaborasi dalam Semangat Kritis dan Konstruktif Perbesar

Oleh: Prayoga Romin Saputra (Ketua Umum HMI Cabang (P) Mimika)

 

Satu tahun kepemimpinan Johannes Rettob dan Emanuel Kemong bukan sekadar penanda waktu administratif, melainkan titik uji: sejauh mana visi “Mimika Maju dan Inklusif” benar-benar diterjemahkan dalam praktik pembangunan.

Visi besar selalu terdengar menjanjikan. Namun ukuran keberhasilannya tidak terletak pada narasi, melainkan pada sejauh mana ia menyentuh realitas. Apakah pembangunan hanya tampak dalam angka dan infrastruktur, atau benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat secara merata?

Harus diakui, dalam satu tahun terakhir, Mimika menunjukkan sejumlah kemajuan. Infrastruktur terus dibangun, pelayanan publik mulai berbenah, dan geliat ekonomi lokal mulai terlihat. Berbagai penghargaan yang diraih juga memberi sinyal bahwa Mimika tidak lagi berjalan di tempat.

Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apakah pembangunan ini sudah benar-benar inklusif?

Di sinilah pemuda menjadi variabel kunci—sekaligus cermin dari arah pembangunan itu sendiri.

Selama ini, pemuda Mimika memang tidak absen. Mereka hadir dalam forum, dilibatkan dalam kegiatan, bahkan kerap menjadi bagian dari agenda pemerintah. Tetapi keterlibatan semacam itu masih bersifat seremonial—belum menyentuh ruang strategis tempat keputusan penting ditentukan.

Padahal, sejarah pembangunan di banyak daerah menunjukkan bahwa perubahan besar justru lahir dari keberanian memberi ruang kepada generasi muda. Pemuda bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak.

Ironisnya, di saat ruang strategis belum sepenuhnya terbuka, pemuda juga masih dihadapkan pada persoalan internal yang tidak sederhana. Dualisme organisasi, tarik-menarik kepentingan, hingga lemahnya konsolidasi antar-organisasi kepemudaan membuat energi besar itu terpecah.

Akibatnya jelas: pemuda memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki daya dorong kolektif yang cukup kuat untuk memengaruhi arah kebijakan.

Situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Pemerintah daerah harus mengambil posisi sebagai fasilitator yang aktif—bukan dengan mengendalikan, tetapi dengan membuka ruang yang adil dan setara. Ruang dialog yang sehat, forum kolaborasi yang nyata, serta keberpihakan pada meritokrasi menjadi kunci agar pemuda tidak sekadar hadir, tetapi berperan.

Di sisi lain, pemuda juga tidak bisa terus berada dalam posisi menunggu. Kepercayaan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan melalui kualitas gagasan, kedewasaan sikap, dan kemampuan membangun kesatuan gerakan.

Tanpa itu, pemuda akan terus berada dalam lingkaran partisipasi semu—terlihat aktif, tetapi minim pengaruh.

Opini ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan capaian yang telah diraih. Sebaliknya, ini adalah bentuk peringatan konstruktif bahwa fondasi yang telah dibangun harus segera diikuti dengan percepatan yang lebih inklusif.

Karena pembangunan yang kehilangan keterlibatan pemuda sejatinya sedang kehilangan masa depannya.

Satu tahun pertama dapat dimaknai sebagai fase konsolidasi awal. Namun ke depan, Mimika membutuhkan lompatan yang lebih berani—dan lompatan itu tidak mungkin terjadi tanpa keberanian untuk melibatkan pemuda secara utuh.

Bukan di pinggir, tetapi di pusat. Bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Bukan sekadar dilibatkan, tetapi dipercaya.

Pada akhirnya, Mimika yang maju dan inklusif tidak akan lahir dari pendekatan yang setengah hati. Ia hanya akan terwujud jika semua pihak—pemerintah dan pemuda—berani keluar dari zona nyaman dan berjalan bersama dalam arah yang sama.

Karena masa depan Mimika tidak hanya ditentukan hari ini, tetapi oleh siapa yang diberi ruang untuk membentuk hari esok.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelarian Berakhir, Pelaku Penganiayaan Berat di Mapurujaya Dibekuk Tim Babat Satreskrim Polres Mimika

21 Juli 2026 - 03:23 WIB

IMG 20260721 WA0003

Lomba Bertutur Cerita Rakyat Mimika Jadi Wadah Pembentukan Karakter Generasi Muda

21 Juli 2026 - 02:58 WIB

IMG 20260720 WA0051

Gubernur Meki Nawipa Siapkan Program “Bangkit Papua Tengah” untuk Percepat Penanganan 1.000 Balita Berisiko Stunting

21 Juli 2026 - 01:55 WIB

Poe5sxfxexbgb6v

Bupati Deiyai Tekankan Disiplin ASN, Penempatan Sesuai Kompetensi dan Percepatan Pembinaan CPNS, PPPK, THK2

20 Juli 2026 - 13:01 WIB

IMG 20260720 WA0050

Wabup Mimika Soroti Lambatnya Serapan Anggaran, OPD Diminta Perkuat Koordinasi

20 Juli 2026 - 12:54 WIB

IMG 20260720 WA0035
Trending di Headline