TIMIKA – Keluhan masyarakat terkait terbatasnya transportasi bagi pelajar dari Kampung Pigapu yang bersekolah di wilayah Pomako mendapat perhatian DPRK Mimika.
Ketua Fraksi PKB DPRK Mimika, Benyamin Sarira, S.P., menyatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan ketersediaan anggaran operasional dan keberlanjutan layanan transportasi bagi para siswa.
Benyamin mengatakan persoalan tersebut akan segera dikoordinasikan dengan dinas terkait guna mencari solusi yang tepat, khususnya terkait operasional kendaraan yang sebelumnya telah disediakan pemerintah.
Menurutnya, pihak DPRK akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk memastikan apakah selama ini terdapat alokasi anggaran operasional bagi angkutan yang melayani masyarakat, khususnya para siswa yang berdomisili di Pigapu dan bersekolah di Pomako.
“Nanti kami akan coba koordinasi dengan dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan,” ujarnya.
Benyamin menjelaskan, sebelumnya terdapat sejumlah kendaraan hibah dari pemerintah, termasuk mobil eks-PON, yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas transportasi masyarakat maupun pelajar. Namun demikian, pihaknya masih perlu menelusuri apakah kendaraan tersebut masih memiliki dukungan biaya operasional atau tidak.
Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini cukup memprihatinkan, karena sebagian siswa terpaksa menggunakan kendaraan yang kurang layak atau tidak aman untuk pergi ke sekolah.
“Kalau anak-anak sampai harus menumpang di mobil kontainer, tentu ini sangat mengganggu dari sisi keselamatan,” katanya kepada Wartawan di ruang Komisi III, Senin (9/3/2026).
Sebagai anggota Komisi III DPRK Mimika sekaligus Ketua Fraksi PKB, Benyamin menegaskan akan menyampaikan aspirasi masyarakat tersebut kepada pimpinan komisi serta berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan.
Selain itu, pihaknya juga akan menelusuri kemungkinan keterlibatan program transportasi lain yang dikelola pemerintah daerah untuk membantu mobilitas masyarakat.
Benyamin berharap, setelah dilakukan koordinasi dengan dinas terkait, dapat ditemukan solusi yang mampu menjamin keselamatan serta kelancaran transportasi bagi para pelajar di wilayah tersebut.
Sementara itu, Tokoh Agama di Kampung Pigapu, Theodorus Kateyau mengungkapkan bahwa bus sekolah milik Dinas Perhubungan memang sudah terlihat beroperasi, namun belum memiliki jadwal yang jelas. Karena masih terlihat anak-anak pulang sekolah harus menumpang di kendaraan truk, mobil depot air bahkan kontainer.
“Baru minggu kemarin saya lihat bus itu lewat. Ada anak-anak yang naik untuk pergi sekolah, tapi sepertinya belum rutin karena tidak ada jadwal tetap,” ujarnya.
Menurut Theodorus, saat ini hanya terdapat satu unit bus berwarna abu-abu yang digunakan untuk mengantar pelajar dari Pigapu menuju sekolah. Bus tersebut dapat menampung pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA. Namun, ia menyebutkan bahwa bus tersebut sejauh ini hanya mengantar siswa ke sekolah pada pagi hari dan tidak selalu menjemput mereka saat pulang.
“Saya lihat bus itu hanya mengantar saja, tetapi saat pulang tidak selalu menjemput. Anak-anak akhirnya pulang sendiri,” katanya. (CR1)








