Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

Headline

Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami”

Etty Welerbadge-check


					Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami” Perbesar

JAKARTA – Perwakilan perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai menegaskan Blok Wabu bukan emas, tapi mama bagi orang Intan Jaya dan Papua pada umumnya.

“Blok Wabu bukan emas, tapi mama kami,” ujar perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai saat menyampaikan suara rakyat Intan Jaya di hadapan Wakil Ketua DPD RI dan anggota DPD RI di ruang Nusantara 3 lantai 8 kantor DPD RI di Jakarta, Jumat, (3/10/2025).

Marsel hadir dengan pakaian adat lengkap yakni topi, noken, koteka, dan hiasan tradisional lain yang melekat di tubuhnya. Bagi Marsel, atribut itu bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa apa yang disebut Blok Wabu adalah bagian dari tubuh dan identitas orang Papua.

“ Tanah bagi kami bukan hanya tempat tinggal, tapi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, tempat tradisi dan doa kami bertumbuh,” ujarnya.

Ia menegaskan, negara boleh melihat Blok Wabu sebagai kandungan emas bernilai ekonomi, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai tanah warisan leluhur yang telah memberi makan, minum, dan kehidupan sejak ribuan tahun lalu.

“ Di sana ada gereja, ada marga-marga yang sudah hidup sebelum Republik berdiri. Kalau Blok Wabu dihancurkan, yang hilang bukan hanya alam, tapi juga etnis, marga, dan budaya kami,” katanya.

Sejak isu tambang mencuat tahun 2019 masyarakat Intan Jaya tidak pernah berubah sikap. Lebih dari 50 kali aksi penolakan digelar, melibatkan tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga tokoh agama. Bahkan Forkopimda Kabupaten Intan Jaya pernah ikut menyatakan dukungan atas penolakan tersebut. Hingga kini, kata Marsel, Blok Wabu juga belum memiliki Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), hanya sekadar rekomendasi penetapan wilayah tambang.

Aspirasi itu kini dibawa ke Senayan. Laporan yang mereka serahkan berisi dukungan dari lebih 1.200 petisi yang ditandatangani kepala suku dan marga di berbagai wilayah Papua terutama Intan Jaya.

“ Kami tidak akan berubah kapanpun dan dimanapun, karena ini tentang diri dan nyawa kami. Siapa pun yang menyetujui eksploitasi berarti menantang kehidupan kami,” tegas Marsel mengakhiri. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PUPR Mimika Kejar Penyelesaian Pembangunan Jalan Hasanuddin 

6 November 2026 - 13:24 WIB

IMG 20261106 WA0044

Dishub Mimika Evaluasi Traffic Light, Perempatan Pin Seluler Jadi Prioritas

6 November 2026 - 13:15 WIB

IMG 20261106 WA0043

Ratusan Pelajar SMA YPPGI Wissel Meren Enarotali Ikut Edukasi dari KPA Paniai 

6 November 2026 - 13:06 WIB

IMG 20261106 WA0042

Dua Hari Pelatihan, Petani Puncak Jaya Belajar Kembangkan Kopi Berkualitas

6 November 2026 - 12:56 WIB

IMG 20261106 WA0036

Deinas Geley Pimpin PSSI Papua Tengah, Targetkan Pembinaan Pemain Muda hingga Tingkat Nasional

6 November 2026 - 12:46 WIB

IMG 20261106 214339
Trending di Headline