Menu

Mode Gelap
Gubernur Papua Tengah Tetapkan BOSDA Pendidikan Gratis Tahun 2026, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat Bupati Yampit Nawipa, Kabupaten Paniai Raih Peringkat I Kinerja Penyaluran Dana Desa Terbaik di Papua Tengah Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai Imbau SMP dan SMA Terapkan Kebijakan Pendidikan Gratis Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete

Headline

Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami”

Etty Welerbadge-check


					Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami” Perbesar

JAKARTA – Perwakilan perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai menegaskan Blok Wabu bukan emas, tapi mama bagi orang Intan Jaya dan Papua pada umumnya.

“Blok Wabu bukan emas, tapi mama kami,” ujar perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai saat menyampaikan suara rakyat Intan Jaya di hadapan Wakil Ketua DPD RI dan anggota DPD RI di ruang Nusantara 3 lantai 8 kantor DPD RI di Jakarta, Jumat, (3/10/2025).

Marsel hadir dengan pakaian adat lengkap yakni topi, noken, koteka, dan hiasan tradisional lain yang melekat di tubuhnya. Bagi Marsel, atribut itu bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa apa yang disebut Blok Wabu adalah bagian dari tubuh dan identitas orang Papua.

“ Tanah bagi kami bukan hanya tempat tinggal, tapi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, tempat tradisi dan doa kami bertumbuh,” ujarnya.

Ia menegaskan, negara boleh melihat Blok Wabu sebagai kandungan emas bernilai ekonomi, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai tanah warisan leluhur yang telah memberi makan, minum, dan kehidupan sejak ribuan tahun lalu.

“ Di sana ada gereja, ada marga-marga yang sudah hidup sebelum Republik berdiri. Kalau Blok Wabu dihancurkan, yang hilang bukan hanya alam, tapi juga etnis, marga, dan budaya kami,” katanya.

Sejak isu tambang mencuat tahun 2019 masyarakat Intan Jaya tidak pernah berubah sikap. Lebih dari 50 kali aksi penolakan digelar, melibatkan tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga tokoh agama. Bahkan Forkopimda Kabupaten Intan Jaya pernah ikut menyatakan dukungan atas penolakan tersebut. Hingga kini, kata Marsel, Blok Wabu juga belum memiliki Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), hanya sekadar rekomendasi penetapan wilayah tambang.

Aspirasi itu kini dibawa ke Senayan. Laporan yang mereka serahkan berisi dukungan dari lebih 1.200 petisi yang ditandatangani kepala suku dan marga di berbagai wilayah Papua terutama Intan Jaya.

“ Kami tidak akan berubah kapanpun dan dimanapun, karena ini tentang diri dan nyawa kami. Siapa pun yang menyetujui eksploitasi berarti menantang kehidupan kami,” tegas Marsel mengakhiri. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IDI Cabang Mimika Resmi Dilantik, Siap Hadapi Tantangan Kesehatan Wilayah

28 Juni 2026 - 11:22 WIB

20260628

dr. Enny Kenangalem Dilantik Pimpin IDI Cabang Mimika Periode 2025–2028

28 Juni 2026 - 10:57 WIB

20260628

5 Anggota OPM Mewuluk Kodam XXVIII Nyatakan Ikrar Setia kepada NKRI 

27 Juni 2026 - 22:54 WIB

IMG 20260627 WA0049

Bupati Puncak Resmikan Gereja GKII Petrus Kalimangga di Nabire, Ajak Jemaat Perkuat Persatuan

27 Juni 2026 - 21:54 WIB

IMG 20260627 WA0128

Polda Papua Tangani 104 Kasus Narkotika, 151 Tersangka Diamankan dalam Enam Bulan

27 Juni 2026 - 12:46 WIB

IMG 20260627 WA0030
Trending di Headline