NABIRE – Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Dr. Petrus Tekege, S.H., M.H., Apresiasi rencana aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua Tengah yang mengangkat persoalan minimnya sarana dan prasarana literasi, khususnya ketersediaan perpustakaan umum dan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi.
Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 November 2026, mulai pukul 08.00 Waktu Papua Tengah (WPT). Massa aksi direncanakan berkumpul di Pasar Karang dan menuju Kantor DPR Papua Tengah sebagai sasaran penyampaian aspirasi.
Dalam surat pemberitahuan tertanggal 30 Oktober 2026, Aliansi Mahasiswa Papua Tengah juga meminta izin kepada pimpinan perguruan tinggi agar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti aksi tersebut.
Melalui aksi itu, mahasiswa membawa tema: Pemerintah Provinsi Papua Tengah Segera Hadirkan Dinas Perpustakaan Umum, Segera Membangun Perpustakaan di Setiap Kampus, dan Melancarkan Pengadaan Buku di Setiap Gerakan Literasi Formal maupun Nonformal.
Rektor USWIM, Petrus Tekege, mengatakan gerakan mahasiswa yang mengangkat persoalan perpustakaan dan literasi merupakan aksi positif yang perlu mendapat perhatian serta dukungan serius dari pemerintah Provinsi maupun kabupaten.
Menurut dia, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari budaya membaca dan ketersediaan sumber pengetahuan.
“Pendidikan tanpa literasi sama halnya dengan jalan tanpa arah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberadaan perpustakaan daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, serta perpustakaan di setiap perguruan tinggi di Papua Tengah, sangat penting untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan tersedianya perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai, dosen, peneliti, dan mahasiswa akan lebih mudah memperoleh referensi serta data untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian.
Selain lingkungan akademik, perpustakaan juga dapat dimanfaatkan masyarakat umum untuk memperluas wawasan dan meningkatkan pengetahuan melalui kegiatan membaca.
Petrus juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah terhadap kelompok-kelompok yang selama ini mengembangkan gerakan membaca di tengah masyarakat.
Ia menyebut komunitas tanam baca yang dibuka mahasiswa dan pemuda di ruang-ruang publik, termasuk Rumah Inspirasi Kebadabi di Mapiduba, sebagai salah satu contoh gerakan literasi yang perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut memiliki manfaat bagi masyarakat karena menyediakan ruang bagi pengunjung untuk membaca buku dan mengembangkan pengetahuan.
Terkait pelaksanaan demonstrasi, Rektor USWIM berharap aparat keamanan dapat mengawal jalannya aksi secara baik dan profesional sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ia juga berharap mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi secara tertib, damai, dan bertanggung jawab agar pesan yang dibawa dapat diterima oleh pihak yang menjadi sasaran aksi.
Aksi Aliansi Mahasiswa Papua Tengah ini diharapkan menjadi ruang penyampaian aspirasi mengenai kebutuhan fasilitas literasi, sekaligus mendorong perhatian pemerintah terhadap pengembangan budaya membaca dan peningkatan kualitas pendidikan di Papua Tengah. (MB)








