NABIRE — Satu tahun menjalankan proses pendidikan, MEPA Boarding School mencatat perkembangan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik melalui sistem pendidikan berbasis asrama.
Hal tersebut disampaikan Kepala Program Pendidikan dan Asrama MEPA Boarding School, Alpius Toam, dalam laporan pendidikan pada peringatan Dies Natalis ke-1 MEPA Boarding School di SP 2 Kampung Kali Semen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Rabu (30/9/2026).
Alpius menjelaskan, Yayasan Honai Generasi Unggul Papua merupakan lembaga pendidikan berbasis Kristiani yang berkomitmen memberikan pendidikan bermutu, berkarakter, beriman dan mandiri.
Saat ini yayasan mengelola dua satuan pendidikan, yakni SMP Swasta MEPA Boarding School dan SMA Swasta MEPA Boarding School.
Keduanya diselenggarakan menggunakan pola asrama atau boarding school.
“Seluruh proses pendidikan berlangsung sepanjang hari, mulai dari bangun sampai datang waktu untuk tidur kembali. Di ruang kelas, kemudian juga di asrama dan berbagai aktivitas,” jelas Alpius.
Menurutnya, pola boarding school memungkinkan pembinaan peserta didik dilakukan secara lebih utuh, mencakup akademik, karakter, iman, kemandirian, keterampilan hidup, kepemimpinan, kehidupan sosial dan tanggung jawab.
MEPA: Mentoring, Education, Prayer dan Action
Alpius menjelaskan MEPA merupakan singkatan dari M- Mentoring, E- Education, P- Prayer dan A- Action (MEPA).
Mentoring dilakukan melalui pendampingan peserta didik secara terus-menerus dalam perkembangan akademik, karakter, iman, kehidupan sosial dan kompetensi.
Education diarahkan melalui pembelajaran akademik, pengembangan literasi, numerasi, keterampilan dan potensi siswa.
Prayer menjadi bagian dari kehidupan sekolah dan asrama, sedangkan Action diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diwujudkan melalui kerja, tanggung jawab, kemandirian dan kontribusi kepada sesama.
“MEPA bukan hanya tempat belajar biasa, tetapi sebuah ekosistem pendidikan,” kata Alpius.
Siswa Berasal dari Tujuh Kabupaten
Peserta didik MEPA berasal dari Dogiyai, Deiyai, Paniai, Puncak, Intan Jaya, Puncak Jaya dan Nabire.
Alpius menyebut terdapat tiga kriteria utama dalam penerimaan siswa.
Pertama, anak dari keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah berdasarkan data Kementerian Sosial.
Kedua, anak yatim, piatu, yatim piatu maupun anak-anak yang terdampak konflik.
Ketiga, peserta didik dengan kondisi khusus atau disabilitas tertentu sesuai kemampuan sekolah dalam memberikan pendampingan.
Dalam penerimaan tahun 2025 dan 2026, tercatat 118 siswa telah diterima. Dalam perjalanannya terdapat beberapa siswa yang meninggalkan sekolah karena berbagai alasan, termasuk keputusan orang tua maupun kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah lain.
Dalam laporan Alpius juga disebutkan jumlah siswa yang sedang mengikuti pendidikan sebanyak 176 siswa, terdiri dari 100 siswa SMP dan 76 siswa SMA.
Literasi Meningkat
Alpius mengatakan kemampuan awal literasi siswa berada pada kisaran 35–45 persen.
Setelah mendapatkan pendampingan selama satu tahun, kemampuan tersebut meningkat menjadi sekitar 70–84 persen.
Peningkatan dilakukan melalui program membaca dan menulis, pendampingan khusus serta evaluasi secara berkala.
Sementara kemampuan numerasi yang pada awalnya berada pada kisaran 30–40 persen juga terus dikembangkan melalui pembelajaran dan pendampingan.
Alpius mengatakan guru dan pendamping bekerja bersama untuk meningkatkan kemampuan dasar peserta didik.
“Terus dibimbing sampai dia membaca dan mencapai kecepatan membaca tertentu. Demikian juga untuk numerasi,” jelasnya.
Selain akademik, pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam kehidupan asrama.
MEPA menerapkan prinsip “disiplin tanpa diawasi, bekerja tanpa diperintah dan bertanggung jawab tanpa diminta.”
Peserta didik dibiasakan menjalankan tanggung jawab sejak pagi, termasuk bangun, berdoa, mengikuti kegiatan sekolah, menjalankan tugas dan hidup bersama dengan peserta didik lainnya.
Kepemimpinan juga dilatih melalui berbagai kegiatan sekolah dan asrama.
Menurut Alpius, siswa diberi kesempatan untuk memimpin dan menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Siswa Torehkan Sejumlah Prestasi
Dalam satu tahun, peserta didik MEPA telah meraih sejumlah prestasi.
Di antaranya juara pertama tari kreasi, serta prestasi dalam bidang instrumen gitar, gerak jalan dan penulisan esai.
Para siswa juga telah tampil dalam berbagai kegiatan di tingkat kabupaten dan Provinsi Papua Tengah.
Untuk menjalankan proses pendidikan, MEPA didukung tenaga pendidik dan kependidikan pada jenjang SMP dan SMA.
Pada jenjang SMP terdapat 15 orang, terdiri dari 14 guru dan satu tenaga administrasi. Sementara SMA memiliki 19 orang, terdiri dari 18 guru dan satu tenaga administrasi.
Selain tenaga pendidik, terdapat tenaga pendamping asrama, tenaga konseling serta 16 tenaga pendukung yang menangani konsumsi, logistik, fasilitas dan keamanan.
Alpius mengatakan guru dan pendamping juga terus mendapatkan evaluasi, pelatihan dan pengembangan profesi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Tantangan Pendidikan
Di balik perkembangan tersebut, MEPA masih menghadapi sejumlah tantangan.
Perbedaan kemampuan awal siswa dari berbagai kabupaten menjadi salah satu tantangan utama.
Kesenjangan literasi dan kemampuan berbahasa juga menjadi perhatian karena sebagian siswa berasal dari lingkungan yang lebih banyak menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Numerasi dan pendampingan kesehatan peserta didik juga menjadi bagian dari tantangan yang harus ditangani secara berkelanjutan.
Namun, pihak MEPA melihat tantangan tersebut sebagai bagian dari proses menuju pendidikan yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Menuju Pengembangan Pendidikan Jangka Panjang
Ketua Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, Nehes Jon Fallo, M.Pd, mengatakan tahun pertama MEPA merupakan tahap untuk meletakkan fondasi.
Yayasan menyiapkan pengembangan pendidikan dari PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.
Selain pendidikan akademik, MEPA juga menyiapkan keterampilan praktis seperti budidaya ikan air tawar dengan sistem bioflok dan hidroponik.
Untuk pendidikan tinggi, yayasan tengah menyiapkan sejumlah program studi, antara lain Pendidikan Agama Kristen dan Informatika.
Yayasan juga memiliki rencana pengembangan kawasan pendidikan di atas lahan sekitar 8 hektare, dengan target pengembangan lebih lanjut menuju tahun 2028.
Alpius menegaskan bahwa perjalanan satu tahun MEPA merupakan bagian dari upaya panjang membangun sumber daya manusia Papua Tengah.
“Perjalanan pendidikan Yayasan Honai Generasi Unggul Papua melalui MEPA Boarding School yang telah melayani selama satu tahun merupakan bagian dari upaya panjang untuk membangun sumber daya manusia di Papua Tengah yang berkualitas,” pungkasnya. (MB)






