TIMIKA – Polres Mimika bersama pemerintah daerah, DPRK akan membentuk tim terpadu untuk mencegah kekerasan yang berujung pada pembunuhan kembali berulang di Mimika.
Kapolres Mimika, AKBP Alredo Agustinus Rumbiak mengatakan tim tersebut tidak hanya bertugas menghentikan persoalan yang sedang terjadi, tetapi juga menjaga agar situasi tetap kondusif setelah konflik mereda.
“Yang terpenting setelah ini selesai, tidak boleh berhenti begitu saja. Ini harus terus dirawat dengan bagaimana membentuk paradigma baru, pemahaman, atau merubah mindset daripada masyarakat,” kata Kapolres Alredo Rumbiak usai pertemuan tertutup di Aula Serbaguna DPRK Mimika, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, selama pola pikir masyarakat masih menempatkan kekerasan sebagai sesuatu yang harus dibalas dengan kekerasan, persoalan serupa akan mudah kembali terjadi.
“Kalau selama mindset-nya berpikiran perang itu dibalasnya harus dibalas, itu enggak akan pernah bisa ubah,” ujarnya.
Ia mengatakan penghentian kekerasan saat ini belum cukup. Sebab, satu kejadian baru dapat kembali memicu pola pembalasan jika tidak ada upaya untuk mengubah cara pandang masyarakat.
“Mungkin saat ini sekarang berhenti, tapi kita enggak tahu besok ada kejadian, terulang lagi begitu terus, bakal saling balas,” katanya.
Karena itu, tim terpadu yang disiapkan akan menjadi wadah bersama untuk menangani sekaligus merawat situasi keamanan.
Tim tersebut akan melibatkan aparat keamanan, pemerintah daerah, DPRK Mimika, Komnas HAM, tokoh agama dan tokoh adat.
Kapolres Alredo Rumbiak menyebut pembentukan tim terpadu menjadi salah satu hal baru yang disepakati dalam pertemuan tersebut. Kesepakatan bersama juga akan diperkuat melalui tanda tangan seluruh pihak yang hadir.
Ia berharap langkah ini tidak hanya menyelesaikan persoalan keamanan yang sedang terjadi, tetapi menjadi awal perubahan dalam cara masyarakat menyelesaikan setiap persoalan tanpa kembali menggunakan kekerasan. (Cr1)






