PAPUA TENGAH – Ada kisah yang mengajarkan kita, bahwa seberapa jauh pun kita harus melangkah, seberapa gelap pun jalan yang ditempuh, doa dan tekad yang tak pernah padam akan selalu membawa kita sampai ke tujuan. Itulah kisah nyata Aleks Pigai, S.Pd., M.Pd. — anak petani yang dulu berjalan kaki melintasi hutan dan bukit demi selembar ilmu, kini dipercaya memikul amanah besar sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Perjalanan hidup seseorang sering kali menjadi cerminan dari ketekunan, doa, dan kerja keras. Kisah itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup Aleks Pigai,S.Pd.,M.Pd, seorang putra asli Papua yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Di balik jabatan yang diembannya saat ini, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Aleks Pigai lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia merasakan kerasnya kehidupan setelah kehilangan ayahnya. Sejak saat itu, hanya sang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ekonomi yang terbatas tidak pernah mematahkan semangatnya untuk mengenyam pendidikan. Justru pengalaman hidup itulah yang membentuk karakter Aleks Pigai menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Pendidikan dasar ditempuh di SD YPPGI Demago. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Moanemani pada tahun 2007. Demi mendapatkan pendidikan, setiap hari ia harus berjalan kaki puluhan kilometer menuju sekolah. Perjuangan itu dijalaninya tanpa mengeluh, karena ia meyakini bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.
Usai menyelesaikan pendidikan SMP pada tahun 2007, Aleks Pigai melanjutkan pendidikan di SMA Tunas Bangsa Timika dan berhasil menamatkan pendidikan pada tahun 2010.
Saat duduk di bangku SMA, ia terus memanjatkan doa agar Tuhan membuka jalan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, ia sadar ibunya tidak mampu membiayai kuliah.
Doa itu akhirnya terjawab. Setelah lulus SMA, Aleks Pigai memperoleh beasiswa dari LPMAK Timika untuk melanjutkan studi Strata Satu (S1) di Universitas Negeri Manado. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya dengan penuh tanggung jawab hingga berhasil menyelesaikan pendidikan pada tahun 2014.
Namun, bagi Aleks Pigai, gelar sarjana belum menjadi akhir dari perjuangan. Ia merasa masih harus terus meningkatkan kapasitas diri demi dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi tanah kelahirannya.
Meski tidak lagi memperoleh beasiswa maupun dukungan sponsor, ia memutuskan melanjutkan pendidikan Strata Dua (S2) di Universitas Negeri Manado dengan biaya sendiri. Berkat kerja keras dan tekad yang kuat, pendidikan magisternya berhasil diselesaikan pada tahun 2016.
Setelah menyelesaikan seluruh pendidikannya di Sulawesi Utara, Aleks Pigai memilih kembali ke Papua untuk mengabdikan ilmu yang dimilikinya.
Di Nabire, ia memulai pengabdiannya sebagai tenaga pendidik di STT Walter Post Nabire, STAK Nabire, SMA Negeri 1 Plus Nabire, hingga akhirnya mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Bagi Aleks Pigai, pengalaman hidup dalam keterbatasan menjadi pelajaran berharga yang membentuk prinsip hidupnya. Ia meyakini bahwa membantu orang lain merupakan bagian dari panggilan hidup, karena dirinya pernah merasakan bagaimana sulitnya memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Dalam berbagai kesempatan, Aleks Pigai juga dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia di Papua Tengah. Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusia yang mampu mengelola dan memanfaatkan pembangunan tersebut.
Ia terus mendorong lahirnya generasi muda Papua yang berdaya saing, berkarakter, serta mampu menjadi pemimpin di masa depan. Selain itu, ia menilai keberhasilan pembangunan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat.
Perjalanan hidup Aleks Pigai menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan doa, kerja keras, pendidikan, dan semangat pantang menyerah, seorang anak kampung yang pernah hidup dalam kesederhanaan kini dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab strategis demi kemajuan Papua.
Kisahnya menjadi inspirasi bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mencapai jabatan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu dan pengalaman hidup dapat diabdikan untuk membangun masyarakat serta membuka jalan bagi generasi Papua berikutnya.(MB)







