Menu ✖

Mode Gelap
Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat Meki–Deinas: Ketika Langit dan Gunung Bertemu Pastor Berusia 36 Tahun Ditemukan Meninggal di Kolam Renang Kuala Kencana

Headline

SATP Jadi Sekolah Pertama di Papua Terapkan Kurikulum Pearson Edexcel, Siapkan Siswa Berdaya Saing Global

Etty Welerbadge-check


					SATP Jadi Sekolah Pertama di Papua Terapkan Kurikulum Pearson Edexcel, Siapkan Siswa Berdaya Saing Global Perbesar

TIMIKA – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) mencatat sejarah baru di dunia pendidikan Papua dengan menjadi sekolah pertama di provinsi ini yang menerapkan kurikulum internasional Pearson Edexcel. Program tersebut dihadirkan untuk membuka akses pendidikan berstandar global bagi siswa tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya dan identitas lokal Papua.

Sekolah yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) melalui dana kemitraan PT Freeport Indonesia itu akan menerapkan kurikulum tersebut secara bertahap, dimulai pada siswa kelas IV SD dan kelas VII SMP.

Berbeda dengan sekolah internasional, SATP tetap mengusung konsep sekolah nasional plus. Kurikulum Pearson Edexcel hanya diterapkan pada lima mata pelajaran, yakni Bahasa Inggris, Matematika, Science, Computing, dan Global Citizenship. Sementara mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama tetap mengacu pada kurikulum nasional.

Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Engel Enoch, mengatakan penerapan kurikulum internasional ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda Papua.

Ia mengapresiasi perkembangan SATP yang selama lebih dari satu dekade telah melahirkan berbagai prestasi dan membuka peluang bagi para siswa mengikuti berbagai kompetisi bergengsi di tingkat nasional maupun internasional.

“Kita ingin anak-anak ini mampu berpikir global dan bertindak global. Kita ingin mereka berbicara juga untuk orang lain, bukan hanya bagi mereka sendiri. Ketika mereka ada di sini, kita berharap mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan suatu saat bisa menjadi seorang pemimpin,” kata Engel.

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Lokon, Daniel Korompis, Ph.D., menjelaskan penerapan Pearson Edexcel merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan tanpa menghilangkan jati diri peserta didik sebagai anak Papua.

Menurutnya, SATP memiliki mandat sebagai sekolah nasional plus yang tetap menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan. Karena itu, internasionalisasi bukan berarti meninggalkan identitas budaya, melainkan memperluas wawasan dan kemampuan peserta didik agar mampu bersaing di tingkat global.

“Kita tidak perlu memilih antara berakar kuat di Papua atau maju ke dunia. Anak-anak kita membutuhkan keduanya. Mereka perlu mengenal tanah, budaya, nilai, dan masyarakatnya. Pada saat yang sama, mereka juga perlu dibekali kunci untuk membuka pintu dunia,” ujarnya.

Daniel mengatakan implementasi awal kurikulum ini dilakukan secara selektif kepada sekitar 25 persen siswa kelas IV SD dan VII SMP.

Ia menambahkan, Pearson Edexcel memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya menekankan asesmen formatif yang berkelanjutan, membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pendekatan pembelajaran modern yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di masa depan.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa internasionalisasi bukan berarti mengganti jati diri. Melainkan membentuk anak-anak yang mampu memahami persoalan, menemukan solusi, memimpin dengan karakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Kepala Seksi Kurikulum SMP, Wilhelmus Manggo, menyambut baik penerapan kurikulum tersebut. Menurutnya, Pearson Edexcel bukan sekadar menghadirkan sistem pembelajaran baru, tetapi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Ia berharap program tersebut mampu melahirkan peserta didik yang lebih kreatif, mampu berkolaborasi, serta memiliki kemampuan berpikir kritis sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Implementasi kurikulum ini akan dilakukan secara bertahap. Setelah diterapkan di kelas IV SD dan VII SMP, program tersebut direncanakan diperluas ke kelas V SD dan VIII SMP.

Sementara itu, Kepala Sekolah SATP, Sonianto Kuddi, mengatakan kurikulum yang diterapkan di sekolahnya tetap berpijak pada kehidupan kontekstual masyarakat Papua melalui Kurikulum Merdeka sebagai fondasi pembentukan karakter dan identitas peserta didik.

Menurutnya, kehadiran Pearson Edexcel menjadi pelengkap yang memberikan kesempatan lebih luas bagi siswa untuk meraih prestasi dan melanjutkan pendidikan di tingkat internasional.

“Melalui Kurikulum Merdeka, anak-anak memiliki landasan yang kuat dalam membangun identitasnya. Di sisi lain, Pearson Edexcel memberikan kesempatan bagi mereka untuk meraih kesuksesan di tingkat internasional,” pungkasnya. (Cr2)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sumpah Pemuda ke-98 di Mimika Barat Jauh, Rettob Tegaskan Pembangunan Harus Menjangkau Kampung

28 Oktober 2026 - 11:44 WIB

IMG 20261028 203824

Semarak Sumpah Pemuda ke-98, SMP Negeri Uta Gelar Lomba Cerdas Cermat hingga Voli

28 Oktober 2026 - 11:00 WIB

IMG 20261028 194842

Pertamina dan Disperindag Sidak SPBU SP 2, Temukan Indikasi Pengisian BBM Tak Wajar

28 Oktober 2026 - 10:41 WIB

IMG 20261028 194111

Serukan Kebenaran dan Keadilan, Aspirasi KNPB Diterima DPRK Mimika 

28 Oktober 2026 - 10:25 WIB

IMG 20261028 192133

Massa Datang dari Sejumlah Wilayah, 150 Personel Gabungan Disiagakan

28 Oktober 2026 - 10:18 WIB

IMG 20261028 191714
Trending di Headline