TIMIKA – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) mencatat sejarah baru di dunia pendidikan Papua dengan menjadi sekolah pertama di provinsi ini yang menerapkan kurikulum internasional Pearson Edexcel. Program tersebut dihadirkan untuk membuka akses pendidikan berstandar global bagi siswa tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya dan identitas lokal Papua.
Sekolah yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) melalui dana kemitraan PT Freeport Indonesia itu akan menerapkan kurikulum tersebut secara bertahap, dimulai pada siswa kelas IV SD dan kelas VII SMP.
Berbeda dengan sekolah internasional, SATP tetap mengusung konsep sekolah nasional plus. Kurikulum Pearson Edexcel hanya diterapkan pada lima mata pelajaran, yakni Bahasa Inggris, Matematika, Science, Computing, dan Global Citizenship. Sementara mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama tetap mengacu pada kurikulum nasional.
Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Engel Enoch, mengatakan penerapan kurikulum internasional ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda Papua.
Ia mengapresiasi perkembangan SATP yang selama lebih dari satu dekade telah melahirkan berbagai prestasi dan membuka peluang bagi para siswa mengikuti berbagai kompetisi bergengsi di tingkat nasional maupun internasional.
“Kita ingin anak-anak ini mampu berpikir global dan bertindak global. Kita ingin mereka berbicara juga untuk orang lain, bukan hanya bagi mereka sendiri. Ketika mereka ada di sini, kita berharap mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan suatu saat bisa menjadi seorang pemimpin,” kata Engel.
Ketua Umum Yayasan Pendidikan Lokon, Daniel Korompis, Ph.D., menjelaskan penerapan Pearson Edexcel merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan tanpa menghilangkan jati diri peserta didik sebagai anak Papua.
Menurutnya, SATP memiliki mandat sebagai sekolah nasional plus yang tetap menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan. Karena itu, internasionalisasi bukan berarti meninggalkan identitas budaya, melainkan memperluas wawasan dan kemampuan peserta didik agar mampu bersaing di tingkat global.
“Kita tidak perlu memilih antara berakar kuat di Papua atau maju ke dunia. Anak-anak kita membutuhkan keduanya. Mereka perlu mengenal tanah, budaya, nilai, dan masyarakatnya. Pada saat yang sama, mereka juga perlu dibekali kunci untuk membuka pintu dunia,” ujarnya.
Daniel mengatakan implementasi awal kurikulum ini dilakukan secara selektif kepada sekitar 25 persen siswa kelas IV SD dan VII SMP.
Ia menambahkan, Pearson Edexcel memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya menekankan asesmen formatif yang berkelanjutan, membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pendekatan pembelajaran modern yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di masa depan.
“Saya ingin menegaskan kembali bahwa internasionalisasi bukan berarti mengganti jati diri. Melainkan membentuk anak-anak yang mampu memahami persoalan, menemukan solusi, memimpin dengan karakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Kepala Seksi Kurikulum SMP, Wilhelmus Manggo, menyambut baik penerapan kurikulum tersebut. Menurutnya, Pearson Edexcel bukan sekadar menghadirkan sistem pembelajaran baru, tetapi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Ia berharap program tersebut mampu melahirkan peserta didik yang lebih kreatif, mampu berkolaborasi, serta memiliki kemampuan berpikir kritis sebagai bekal menghadapi tantangan global.
Implementasi kurikulum ini akan dilakukan secara bertahap. Setelah diterapkan di kelas IV SD dan VII SMP, program tersebut direncanakan diperluas ke kelas V SD dan VIII SMP.
Sementara itu, Kepala Sekolah SATP, Sonianto Kuddi, mengatakan kurikulum yang diterapkan di sekolahnya tetap berpijak pada kehidupan kontekstual masyarakat Papua melalui Kurikulum Merdeka sebagai fondasi pembentukan karakter dan identitas peserta didik.
Menurutnya, kehadiran Pearson Edexcel menjadi pelengkap yang memberikan kesempatan lebih luas bagi siswa untuk meraih prestasi dan melanjutkan pendidikan di tingkat internasional.
“Melalui Kurikulum Merdeka, anak-anak memiliki landasan yang kuat dalam membangun identitasnya. Di sisi lain, Pearson Edexcel memberikan kesempatan bagi mereka untuk meraih kesuksesan di tingkat internasional,” pungkasnya. (Cr2)







