NABIRE – Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) mendorong pemerintah daerah di Papua untuk segera menyusun kurikulum bahasa daerah sebagai langkah nyata mencegah kepunahan bahasa ibu di tanah Papua.
Dorongan tersebut disampaikan Rektor USWIM Nabire, Petrus Tekege, MH. usai Seminar Internasional Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi yang menghadirkan akademisi dari Australian National University dan Universitas Cenderawasih.
Menurutnya keberadaan peraturan daerah terkait pelestarian bahasa daerah harus diimplementasikan secara nyata dan tidak hanya menjadi dokumen arsip semata.
“Kita harapkan pemerintah daerah bisa bikin kurikulum bahasa daerah,” ujarnya.
Tekege menjelaskan, salah satu penyebab utama hilangnya bahasa daerah adalah minimnya penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga.
Banyak orang tua Papua, kata dia, tidak lagi menggunakan bahasa daerah di rumah sehingga anak-anak tidak memiliki kesempatan belajar bahasa ibu sejak kecil.
“Orang tua tidak berbicara bahasa daerah di rumah, lalu anak-anak juga tidak diajarkan. Akhirnya mereka menganggap bahasa daerah itu kuno,” katanya.
Selain itu, belum adanya kurikulum maupun tempat kursus bahasa daerah membuat generasi muda semakin jauh dari identitas budaya mereka.
Rektor mencontohkan apabila sekolah mewajibkan siswa mempelajari bahasa daerah tertentu, maka masyarakat akan terdorong mengikuti kursus dan mempelajarinya secara serius.
“Kalau ada kurikulum, pasti orang mau belajar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pelestarian bahasa daerah membutuhkan dukungan semua pihak mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah hingga masyarakat adat.
USWIM berharap seminar internasional tersebut menjadi langkah awal membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan bahasa daerah Papua di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi. (MB)








