Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

Headline

Gelar Aksi Bisu Peringati IWD, Perempuan di Nabire Serukan Hentikan Kekerasan, Stop Stigma dan Lindungi Perempuan

Etty Welerbadge-check


					Gelar Aksi Bisu Peringati IWD, Perempuan di Nabire Serukan Hentikan Kekerasan, Stop Stigma dan Lindungi Perempuan Perbesar

NABIRE — Sejumlah massa di Nabire, Papua Tengah, menggelar aksi bisu dengan membentangkan berbagai spanduk berisi seruan menghentikan kekerasan, menghapus stigma, serta melindungi perempuan dan anak. Aksi tersebut berlangsung di lampu merah depan SMP YPPK Antonius Nabire, Sabtu (7/3/2026).

Img 20260308 wa0044

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) yang jatuh pada 8 Maret 2026 dengan tema “Give To Gain” (Memberi untuk Mendapatkan). Para peserta aksi berdiri di pinggir jalan sambil membentangkan sejumlah pamflet yang berisi berbagai tuntutan terkait perlindungan hak perempuan juga sambil membagikan seruan hentikan kekerasan dan lindungi perempuan.

Koordinator Solidaritas Perempuan Papua Tengah, Paola S. Pakage, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian perempuan terhadap berbagai persoalan yang masih dialami perempuan,mulai dari kekerasan, diskriminasi hingga stigma sosial.

Img 20260308 wa0049

“Melalui aksi ini kami menyerukan agar kekerasan terhadap perempuan. Perempuan berhak hidup aman dan damai,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, massa aksi bisu juga membentangkan spanduk bertuliskan “Dengarkan suara mama-mama di tanah konflik. Perempuan ingin hidup aman dan damai. Hentikan kekerasan, lindungi perempuan. Perempuan bertahan, dunia harus peduli.”

Selain itu, terdapat pula spanduk yang mempertanyakan perhatian media terhadap kondisi perempuan di daerah konflik dengan tulisan “Wahai berita aku bertanya, dimanakah liputan derita mama-mama di Ndugama.”

 

Img 20260308 wa0041

Ketua Kewita Nabire, Debora Nawipa, mengatakan masih banyak stigma yang melekat terhadap perempuan di masyarakat yang harus dihentikan. Ia menilai perempuan kerap dipandang secara tidak adil dan dibatasi dalam berbagai aspek kehidupan.

“Ada stigma yang memandang perempuan hanya sebagai alat pemuas nafsu, budak dapur, dan mesin produksi anak. Stigma seperti ini harus dihentikan karena merendahkan martabat perempuan,” katanya.

Selain isu kekerasan dan stigma sosial, aksi tersebut juga menyoroti diskriminasi terhadap perempuan dengan status ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Massa aksi menyerukan agar stigma terhadap ODHA dihentikan serta perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang adil.

 

Hal itu terlihat dari sejumlah spanduk yang bertuliskan “Hentikan stigma terhadap perempuan dengan status ODHA”, “Lindungi perempuan dari diskriminasi terkait HIV/AIDS”, serta “Bersama perempuan kita hentikan stigma HIV/AIDS.”

Img 20260308 wa0043

Ketua Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) Nabire, Melo, menyatakan dukungannya terhadap aksi tersebut. Ia menilai perjuangan perempuan untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi harus menjadi perhatian semua pihak.

“Kami mendukung upaya untuk menghentikan kekerasan dan stigma terhadap perempuan. Mama-mama Papua ingin hidup aman, bekerja dengan tenang, dan membesarkan anak-anak mereka dengan baik,” ujarnya.

Melalui momentum IWD 2026, para perempuan yang mengikuti aksi tersebut juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan hak perempuan, termasuk dalam hal kesehatan dan hak reproduksi.

“ Kami berharap pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat dapat lebih serius dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan, diskriminasi, serta berbagai bentuk stigma yang masih terjadi di tengah masyarakat,” pungkas Melo. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tim PERSEJASI Mimika Bawah Nama Papua di Liga Nasional Yang Digelar Oktober 2026 

6 September 2026 - 14:12 WIB

20260904

Batu di Badan Jalan Berujung Kecelakaan Tunggal di Pasar Lama Timika

6 September 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260906 WA0000

Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan, Aktivitas Sejumlah Gunung Api Terus Dipantau

6 September 2026 - 11:32 WIB

6a9c1de50d696

KNPI Mimika: KONI Distrik Harus Jadi ‘Mata dan Telinga’ untuk Temukan Talenta Atlet dari Kampung

5 September 2026 - 13:54 WIB

20260905

Dari Kampung Untuk Mimika, KONI Distrik Mimika Barat Tengah Siap Cetak Atlet Berprestasi

5 September 2026 - 13:33 WIB

IMG 20260905 223248
Trending di Headline