JAKARTA – Indonesia dan Tiongkok semakin mempererat kerja sama dalam bidang pendidikan tinggi dan riset sebagai upaya menghadapi tantangan global yang dinamis. Dalam acara malam silaturahmi. Senin (17/02/2025).
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya untuk memperluas kolaborasi strategis di bidang inovasi teknologi, riset, serta pengembangan akademik.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro, dalam sambutannya menekankan pentingnya kemitraan dengan Tiongkok dalam meningkatkan kualitas riset dan pendidikan di perguruan tinggi Indonesia. “Tiongkok memiliki keunggulan dalam riset yang dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kedua negara. Kolaborasi ini sejalan dengan visi Presiden RI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjadikan pendidikan tinggi sebagai motor penggerak ekonomi nasional,” ujar Satryo.
Sejauh ini, tercatat sebanyak 761 kesepakatan kerja sama telah terjalin antara perguruan tinggi Indonesia dan Tiongkok, mencakup berbagai aspek seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, riset bersama, pengembangan kurikulum, serta pelatihan keterampilan. Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah inisiatif “1+10+100+1000”, hasil kerja sama dengan Kemenko PMK dan Pendidikan Vokasi, yang mencakup pembukaan program studi teknologi kendaraan energi baru, kompetisi keterampilan profesional, pelatihan teknis, serta pemberian 1.000 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa hubungan erat antara Indonesia dan Tiongkok telah memberikan dampak positif dalam berbagai sektor, termasuk infrastruktur, perdagangan, dan pendidikan. “Indonesia dan Tiongkok bukan hanya mitra ekonomi, tetapi juga memiliki kepentingan strategis dalam membangun sumber daya manusia yang berdaya saing global. Kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam menciptakan stabilitas kawasan serta mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Luhut.
Dalam menghadapi dinamika politik dan ekonomi internasional, kedua negara berkomitmen untuk terus mengedepankan prinsip saling memahami dan kerja sama yang saling menguntungkan. Satryo menambahkan bahwa perkembangan teknologi saat ini membuka peluang besar bagi kedua negara untuk memperdalam kemitraan dalam bidang riset dan pendidikan. “Dengan sinergi yang kuat, kita dapat memanfaatkan potensi ini untuk kemajuan bersama,” tutupnya.






