Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

Headline

Lemasko Tegaskan Eme Neme Yauware Adalah Semboyan Filsafat Mimika Yang Tidak Bisa Dirubah, “Mimika Rumah Kita” Hanya Tagline atau Brand Mimika

Etty Welerbadge-check


					Lemasko Tegaskan Eme Neme Yauware Adalah Semboyan Filsafat Mimika Yang Tidak Bisa Dirubah, “Mimika Rumah Kita” Hanya Tagline atau Brand Mimika Perbesar

TIMIKA – Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) akhirnya angkat bicara terkait polemik yang berkembang di tengah masyarakat soal penggunaan tagline “Mimika Rumah Kita” yang belakangan dinilai menggeser keberadaan motto asli Kabupaten Mimika, yakni “Eme Neme Yauware”.

Wakil Ketua I Lemasko, Marianus Maknaipeku kepada media, Rabu (18/9)  menegaskan bahwa Lemasko mengajak semua pihak untuk kembali memahami makna filosofis dari motto “Eme Neme Yauware” yang telah menjadi identitas budaya dan simbol kearifan lokal masyarakat Mimika sejak lama.

“Motto Eme Neme Yauware bukan sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan warisan nilai dan semangat masyarakat Kamoro dan Amungme dalam membangun kehidupan yang harmonis, gotong royong, dan menghargai satu sama lain. Ini tidak tergantikan oleh hal apapun,” ujarnya.

Ia menegaskan, Lemasko tidak menolak penggunaan tagline “Mimika Rumah Kita” yang sejatinya bertujuan memperkuat rasa kebersamaan seluruh warga.

“Tag line Pimpinan Pemerintah sekarang yaitu Mimika Rumah Kita. Mimika Rumah Kita sebagai pelengkap, bukan pengganti. Yang utama tetap motto daerah, karena di sanalah nilai-nilai adat dan jati diri kita melekat,” tambahnya.

Lemasko tegaskan kepada semua elemen masyarakat Kabupaten Mimika bahwa “Mimika Rumah Kita” tidak perlu dipersoalkan dengan Motto Kabupaten Eme Neme Yauware.

Eme Neme Yauware adalah Motto Kabupaten Mimika. Sementara Mimika Rumah Kita adalah Visi Misi Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong selama masa kepemimpinan mereka kedepan.

“Bukan dengan adanya Visi Misi Bupati dan Wabup terpilih “Mimika Rumah Kita” seolah-olah mempojokan dua suku pemilik negeri ini, Tidak ada, tegasnya. Mimika Rumah Kita ibarat merangkul semua yang tinggal di Timika untuk menjalin hubungan baik, terutama dari sisi Toleransi Beragama dan tidak boleh ada permasalahan apapun,” katanya.

Marianus menegaskan bahwa Eme Neme Yauware adalah adat yang tidak bisa dirubah dengan hal apapun. Sehingga jangan ada yang berpikir bahwa tag line “Mimika Rumah Kita” akan menghilangkan Motto adat Amungme dan Kamoro yaitu Eme Neme Yauware. Itu salah, karena adat tetap adat dan tag line hanya brand Mimika dan visi misi pemimpin Daerah saat ini.

“Saya tegaskan jangan mempolitisir dinamika Kabupaten Mimika yang lagi menata birokrasi Pemerintahan. Janga bangun opini yang mengatakan seolah-olah kedua pimpinan daerah ini melupakan dua suku besar, tidak ada sama sekali,” tegas Marianus.

Mimika Rumah Kita diibaratkan menampung siapa saja yang ingin mencari nafkah di Negeri ini, tetapi tetap menghargai Budaya, adat Tanah Ini dan Pemilik Tanah ini. Harus menghargai dan hidup rukun dan damai di Kabupaten Mimika.

“Saya sesalkan pernyataan beberapa pihak yang membelokan sesuatu yang bukan fakta melainkan seolah-olah mengganggu Bupati dan Wabup dalan menata pemerintahan ini. Saya himbau mari kita dukung jadikan Mimika Rumah Kita mencapai Eme Neme Yauware,” tambah Marianus.

Marianus menambahkan,  kepada bapak-bapak DPRP Papua Tengah dan DPRK Mimika agar tidak fokus pada perbincangan Motto dan Tagline yang sebenarnya tidak ada masalah. Tetapi bagaimana Bapak-bapak khusus yang di Pansus bisa menghasilkan Perda yang mengikat orang dua suku besar yang melekat untuk masa depan anak cucu dua suku besar.  Berikut harapan lembaga kepada para wakil rakyat di Kabupaten maupun Propinsi untuk beberapa hal yaitu :

  1. Duduk sama-sama menyelesaikan masalah tapal batas tanah. Karena Kabupaten Mimika belum pernah dimekarkan.
  2. Segera buat Pansus menyangkut bagaimana anak-anak Amungme dan Kamoro bisa masuk IPDN dengan adanya kuota khusus, tanpa ada campuran.
  3. Bicara mengenai hak perlindungan dua suku besar khusus hak Politik kedepan selain jalur OTSUS.

Lanjut Marianus, bagaimana membuat satu Perda yang melekat bagi dua suku besar. Memprioritaskan anak-anak AK dalam seleksi CPNS nantinya. Karena kenyataanya untuk CPNS ini dua suku ketinggalan menyangkut SDM.

“SDM dua suku ini sangat cukup dan siap untuk menduduki jabatan di Pemerintahan. Karena beberapa tahun terakhir ini jabatan untuk dua suku besar tidak seimbang dengan suku lain. Kantor-kantor dikuasai orang non AK. OAP ada tetapi tidak berimbang, apalagi dua suku bisa dihitung dengan jari. Ini yang harus diperhatikan oleh bapak-bapak dewan, bukan mengurus Visi Misi dan Motto yang sebenarnya baik-baik saja,” tambahnya.

Mimika Rumah Kita ini visi misi, tag line Bupati dan Wabup dalam merangkul semua suku untuk membangun Mimika menuju dan mencapai Eme Neme Yauware.

“Saya harap semua pihak jeli dan pahami perbedaan antara Motto dan Visi Misi atau tag line. Motto itu adat yang melekat bagi dua suku besar yaitu Amungme dan Kamoro. Sementara Mimika Rumah Kita adalah Visi Misi masa kepemimpina Bupati Johannes Rettob dan wabup Emanuel Kemong yang tidak ada niat menggeser hak dari dua suku besar. Buang opini-opini yang mengganggu kinerja pemerintahan,” katanya.

Sebagai lembaga adat mengajak semua pihak mendukung visi misi Bupati dan Wabup yaitu jadikan Mimika Rumah Kita untuk membangun Kabupaten Mimika kedepan dengan Motto Eme Neme Yauware.

Polemik ini mencuat setelah sejumlah tokoh masyarakat dan netizen menyoroti penggunaan tagline “Mimika Rumah Kita” dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah daerah, tanpa menyertakan motto resmi “Eme Neme Yauware”. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terpinggirkannya simbol budaya yang selama ini dijunjung tinggi.

Lemasko pun mengimbau agar dialog terbuka antara pemangku kepentingan, tokoh adat, dan pemerintah segera dilakukan untuk menyatukan pemahaman terkait penggunaan simbol dan identitas daerah demi menghindari perpecahan di tengah masyarakat.

“Kita semua ingin Mimika maju,” tutupnya. (Etty Welerubun)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perkuat Layanan Kesehatan, Dinas Sosial Mimika Salurkan Layanan Kesehatan Dasar di Kwamki

11 Juni 2026 - 10:39 WIB

IMG 20260611 WA0117

Kesbangpol Mimika Gelar Bimtek SIKEPO Dorong Akuntabilitas Dana Parpol

11 Juni 2026 - 10:30 WIB

IMG 20260611 WA0108

Cekcok di Jalan Perintis Mimika Berujung Pembacokan, Polisi Buru Pelaku

11 Juni 2026 - 10:24 WIB

IMG 20260611 WA0116

Asisten III Setda Deiyai Tutup Penyuluhan Kebijakan Pajak Daerah, Dorong Peningkatan PAD

11 Juni 2026 - 10:20 WIB

IMG 20260611 WA0102

Semarakkan HUT RI ke-81, Dukcapil Mimika Targetkan 100 Pasangan Ikut Nikah Massal dan Isbat 

11 Juni 2026 - 10:11 WIB

IMG 20260611 WA0095
Trending di Headline