Menu ✖

Mode Gelap
Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat Meki–Deinas: Ketika Langit dan Gunung Bertemu

Headline

Gubernur Meki Nawipa Buka Festival Kopi Papua Tengah, Siapkan Pembinaan 50 Petani per Kabupaten

Etty Welerbadge-check


					Gubernur Meki Nawipa Buka Festival Kopi Papua Tengah, Siapkan Pembinaan 50 Petani per Kabupaten Perbesar

NABIRE – Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, secara resmi membuka Festival Kopi Papua Tengah 2026 di Aula KSK, Nabire, Kamis (29/10/2026). Festival perdana di Tanah Papua ini digagas oleh Dinas Perkebunan Provinsi Papua Tengah sebagai ruang pertemuan petani dan pelaku produksi kopi dari delapan kabupaten di Papua Tengah.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para petani untuk memperkenalkan dan memamerkan produk kopi mereka kepada publik, sekaligus membuka peluang membangun jaringan usaha dan memperluas pemasaran kopi lokal.

Usai pembukaan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, kepada wartawan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Papua yang telah mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya kopi dan teh. Ia menilai para petani dan pelaku usaha yang konsisten mengembangkan komoditas tersebut merupakan sumber daya manusia yang perlu didukung pemerintah.

IMG 20261029 WA0084

Meki turut menyinggung kontribusi Didimus Tebay di Moanemani, Kabupaten Dogiyai, yang memperkenalkan kopi Moanemani P5, serta para petani lainnya yang berkontribusi dalam pengembangan perkebunan di Papua Tengah.

“Terima kasih banyak, ada orang-orang hebat di negeri ini yang konsen dengan pertanian, perkebunan, kopi dan teh, dan kita memberikan apresiasi dan kita mendukung,” ujar Meki.

Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi petani adalah belum kuatnya jaringan kerja sama dalam proses produksi hingga pemasaran. Karena itu, petani perlu membangun tim, memperluas jejaring, dan bekerja bersama agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Meki juga menyoroti peran tengkulak atau perantara yang dapat memengaruhi kestabilan harga di tingkat petani. Menurutnya, harga yang naik turun berpotensi merugikan petani apabila mereka tidak memiliki jaringan pemasaran yang kuat.

“Kalau jalan sendiri-sendiri, nanti broker akan masuk. Tengkulak ini yang selalu merusak pasar,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah ingin mendorong penguatan jaringan petani agar pemasaran kopi lebih terorganisasi dan harga di tingkat petani dapat lebih stabil. Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperkuat komoditas kopi terlebih dahulu sebelum melihat peluang pengembangan lebih lanjut.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Kopi Papua Tengah, Andreas Gobai, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi akan menindaklanjuti kegiatan tersebut melalui program pembinaan petani kopi di kabupaten-kabupaten di Papua Tengah.

IMG 20261029 WA0085

Menurut Andreas, program pembinaan itu merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Papua Tengah untuk tidak hanya mempertemukan petani, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka dalam membudidayakan kopi secara benar.

Pemerintah menargetkan pembinaan terhadap 50 petani dari setiap kabupaten. Untuk tahap pelaksanaan tahun ini, pembinaan direncanakan menjangkau Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai, dan Nabire. Sementara itu, Kabupaten Deiyai dan Mimika direncanakan menyusul pada tahun berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, Dinas Perkebunan Provinsi Papua Tengah akan bekerja sama dengan Asosiasi Kopi Indonesia untuk memberikan pendampingan kepada para petani.

Materi pembinaan meliputi teknik penanaman, perawatan tanaman, pemilihan benih, serta penerapan budidaya kopi yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil panen.

Andreas menjelaskan, selama ini pengembangan kopi di kalangan petani masih menghadapi tantangan, terutama dalam penerapan teknik budidaya dan menjaga kualitas produk. Karena itu, pembinaan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan petani sehingga kopi yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan mampu bersaing di pasar.

“Targetnya petani punya pengetahuan bagaimana cara budidaya yang benar,” ujarnya.

Ia menyebutkan, anggaran untuk program pembinaan tersebut diperkirakan hampir Rp1 miliar lebih, yang mencakup kebutuhan operasional pelaksanaan program.

Melalui Festival Kopi Papua Tengah 2026 dan program pembinaan lanjutan, pemerintah provinsi berharap petani tidak hanya memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk, tetapi juga mendapatkan pengetahuan, pendampingan, serta jaringan usaha yang dapat memperkuat pengembangan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Festival ini menjadi langkah awal untuk mempertemukan petani, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan kopi Papua Tengah dari sektor budidaya hingga pemasaran. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengembangan Kasus Curanmor, Polda Papua Temukan 25 Kendaraan di Rusunawa Uncen

30 Oktober 2026 - 06:48 WIB

IMG 20261030 WA0082

Papua Tengah Terima 3 Juta Bibit Kakao, Petani Nabire Ditargetkan Mulai Tanam Akhir 2026

30 Oktober 2026 - 06:39 WIB

IMG 20261030 WA0078

Kasus Penganiayaan Berakhir Kematian GAR, Polisi Resmi Tetapkan Tiga Orang Tersangka 

30 Oktober 2026 - 06:21 WIB

IMG 20261030 WA0050

Minim Saksi dan CCTV Tak Merekam, Misteri Pembuangan Bayi di Timika Belum Terungkap

30 Oktober 2026 - 06:00 WIB

IMG 20261030 WA0049

Polisi Musnahkan Sebanyak 305,7131 gram Narkotika Senilai Ratusan Juta, Ribuan Jiwa Diselamatkan

30 Oktober 2026 - 05:46 WIB

IMG 20261030 144104
Trending di Headline