Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

Opini

OPINI : Luka Cinta yang Tak Direstui dan Perjalanan Hidup Bagenatunai Kedeikoto

Etty Welerbadge-check


					OPINI : Luka Cinta yang Tak Direstui dan Perjalanan Hidup Bagenatunai Kedeikoto Perbesar

DOGIYAI – Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada kisah yang terlihat sederhana dari luar, tetapi menyimpan luka, pergumulan dan pengalaman panjang yang tidak selalu diketahui orang lain.

Salah satunya adalah kisah Yeremias Kedeikoto, warga asal Kampung Modio, Kabupaten Dogiyai, yang dalam perjalanan hidupnya kemudian dikenal dengan nama Bagenatunai Kedeikoto.

Kisah tersebut dituturkan oleh Oktovianus Kedeikoto, seorang pamantri asal Dogiyai, berdasarkan cerita yang pernah disampaikan oleh saudara perempuannya. Ia mengakui bahwa tidak banyak yang diketahuinya mengenai seluruh perjalanan hidup Yeremias. Karena itu, kisah ini merupakan penggalan cerita yang ia dengar dari keluarga.

Pada masa mudanya, Yeremias dikenal sebagai sosok yang pendiam, lembut dan pekerja keras. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja, termasuk membantu mengantar dan menjemput para pastor misionaris.

Dalam perjalanan hidupnya, Yeremias kemudian mengenal seorang perempuan yang dicintainya. Ia meyakini bahwa perempuan tersebut merupakan pasangan hidup yang ditakdirkan untuknya.

Namun, harapan tersebut tidak berakhir seperti yang diinginkannya.

Hubungan yang dijalaninya tidak mendapat restu dari keluarga pihak perempuan. Penolakan itu menjadi pukulan berat bagi dirinya. Harapan yang telah dibangun seakan runtuh dan meninggalkan luka yang mendalam.

Di tengah kekecewaan dan pergumulan batin tersebut, Yeremias kemudian mengambil keputusan yang bagi banyak orang pada masa itu sulit dipahami.

Ia mulai menggunakan nama Bagenatunai dan mengubah penampilannya. Setelah perubahan tersebut, Bagenatunai menjalani kehidupan sehari-hari dengan penampilan dan pola aktivitas yang oleh masyarakat setempat lebih sering diasosiasikan dengan kehidupan perempuan.

Cara berpakaian, pekerjaan yang dilakukan, hingga kehidupan pergaulan sosial sehari-hari dijalaninya dengan penampilan dan peran yang konsisten sebagai seorang perempuan.

Perubahan itu bukan hanya terlihat dari cara berpakaian, tetapi menjadi bagian dari kesehariannya. Dalam kehidupan sosial, Bagenatunai bergaul dan menjalani aktivitas sebagaimana yang dikenal masyarakat sebagai kehidupan seorang perempuan.

Pilihan hidup tersebut kemudian dipertahankannya hingga akhir hayat.

Masyarakat memiliki pandangan yang beragam terhadap perjalanan hidup Bagenatunai. Ada yang merasa bingung, ada yang mencoba memahami, dan ada pula yang memilih memberikan ruang serta menghormati kehidupannya.

Namun, alasan terdalam di balik keputusan tersebut hanya benar-benar diketahui oleh Bagenatunai sendiri.

Bagi orang lain, perubahan itu mungkin terlihat sebagai sesuatu yang tidak biasa. Tetapi di balik setiap perjalanan hidup seseorang selalu ada cerita, pengalaman, luka dan pergumulan yang tidak semuanya diketahui oleh orang lain.

Karena itu, kisah Bagenatunai mengajarkan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan apa yang tampak dari luar.

Di balik perubahan seseorang bisa terdapat pengalaman panjang yang tidak pernah diceritakan. Ada luka yang dipendam, ada perjalanan yang dilalui sendirian, dan ada pencarian akan ketenangan yang mungkin hanya dipahami oleh orang yang menjalaninya.

Oktovianus Kedeikoto menuliskan kisah ini bukan untuk menghakimi ataupun membenarkan pilihan hidup Bagenatunai, melainkan sebagai sebuah catatan kenangan terhadap sosok yang pernah hadir dan menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri.

“Kisah hidupnya saya tidak ketahui banyak, tetapi tulisan ini saya ulas berdasarkan sepintas cerita dari saudara perempuan saya,” tulis Oktovianus.

Bagenatunai Berpulang

Setelah menjalani perjalanan hidup yang panjang, Bagenatunai Kedeikoto meninggal dunia pada 5 September 2026.

Bagenatunai berpulang dari Kampung Modio, Kabupaten Dogiyai, meninggalkan keluarga, kerabat dan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Kisah hidupnya mungkin tidak banyak tercatat dalam dokumen sejarah. Namun, perjalanan hidupnya menjadi bagian dari cerita seorang manusia yang pernah mengalami cinta, penolakan, luka, perubahan dan pencarian jalan hidupnya sendiri.

Selamat jalan, Kakak Yeremias/Bagenatunai Kedeikoto.

Semoga segala kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidup menjadi kenangan bagi mereka yang ditinggalkan, dan semoga arwahnya diterima di sisi kanan Allah Bapa di Surga. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

OPINI : Menggugat ke PTUN Tak Cukup Bermodal Somasi

1 Juli 2026 - 03:34 WIB

Cuplikan layar 2026 07 01

OPINI : Bangkit Bersama

10 Juni 2026 - 08:46 WIB

IMG 20260610 WA0082

Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

29 Mei 2026 - 02:28 WIB

WhatsApp Image 2026 05 29 at 10.31.15

OPINI : ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS: Cara Paus Lawan Kebangkitan ‘Menara Babel’

27 Mei 2026 - 08:42 WIB

IMG 20260526 WA0005

OPINI :

17 Mei 2026 - 10:58 WIB

IMG 20260517 WA0006
Trending di Opini