NABIRE – Ikatan Keluarga Maluku Kabupaten Nabire menggelar ziarah ke Taman Makam Pahlawan Nabire dalam rangka memperingati Hari Perjuangan Kapitan Besar Patimura ke-209 tahun, Jumat (15/5/2026).
Kegiatan ziarah berlangsung khidmat dan penuh semangat persaudaraan dengan rangkaian acara berupa hening cipta, peletakan karangan bunga, penghormatan kepada arwah para pahlawan, serta hamburan bunga di makam para pejuang bangsa.

Ketua Ikatan Keluarga Maluku Kabupaten Nabire, Edward A. Berhitu, mengatakan peringatan Hari Perjuangan Patimura tahun ini diisi dengan sejumlah kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa perjuangan Kapitan Thomas Matulessy atau Kapitan Patimura.
“Kami memperingati Hari Perjuangan Kapitan Besar Patimura yang ke-209. Kami dari Ikatan Keluarga Maluku menyelenggarakan beberapa kegiatan untuk memperingati hari tersebut,” ujar Edward.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali dengan pembersihan dan pengecatan Tugu Patimura yang telah dibangun oleh para tokoh Maluku di Nabire sejak 35 tahun lalu.
“Mulai dengan pembersihan dan pengecatan Tugu Patimura. Itu selalu kami rawat, itu tugas yang dibangun oleh tua-tua kami 35 tahun yang lalu,” katanya.
Menurut Edward, ziarah di Taman Makam Pahlawan menjadi bagian penting dari refleksi perjuangan Kapitan Patimura sebagai simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap penjajahan.
“Agenda kedua adalah kita ziarah di Taman Makam Pahlawan karena ini berhubungan dengan perjuangan pahlawan Thomas Matulesi, Kapitan Patimura,” jelasnya.
Selain ziarah, IKEMAL Nabire juga akan menggelar prosesi pembakaran obor Patimura di Tugu Patimura pada Jumat sore pukul 15.00 WIT.

Prosesi tersebut, kata Edward, menjadi simbol semangat perjuangan dan nilai-nilai luhur yang diwariskan Kapitan Patimura kepada generasi Maluku.
“Pembakaran obor Patimura melambangkan bagaimana Patimura berjuang dan arti perjuangannya itu kami anak cucu orang Maluku tetap memelihara tradisi itu,” ujarnya.
Edward menegaskan bahwa masyarakat Maluku memegang teguh nilai cinta tanah air, harga diri, dan semangat melawan penindasan sebagaimana diwariskan oleh para leluhur.
“Orang Maluku itu cinta tanah air, tidak mau dijajah, tidak mau direndahkan, dan orang Maluku itu punya harga diri,” tegasnya.
Rangkaian peringatan akan ditutup pada Minggu, 17 Mei 2026, melalui kegiatan makan patita yang dipusatkan di Pantai Jesbry, Kimi, Nabire.
Edward menjelaskan bahwa makan patita merupakan filosofi hidup orang Maluku yang mencerminkan nilai persaudaraan dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
“Filosofi makan patita itu adalah wujud nyata daripada filosofi hidup kami tentang ale rasa beta rasa. Jadi makan patita itu saudara, tidak ada sekat sosial, miskin kaya, kita makan bersama-sama,” katanya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut menjadi simbol bahwa seluruh masyarakat adalah saudara yang hidup dalam kebersamaan dan saling menghargai.
“Semua masalah hilang di meja makan. Itu filosofi kami orang Maluku tentang persaudaraan,” pungkas Edward. (MB)









