NABIRE – Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire Papua Tengah, Dr. Petrus Tekege, MH. mengajak generasi muda Papua Tengah memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook dan Youtube sebagai sarana pelestarian bahasa daerah di tengah arus digitalisasi dan globalisasi.
Ajakan tersebut disampaikan usai melaksanakan Seminar Internasional Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi yang digelar USWIM bersama Australian National University dan Universitas Cenderawasih.
Menurut Petrus, perkembangan teknologi tidak seharusnya menjadi ancaman bagi keberlangsungan bahasa daerah, melainkan dimanfaatkan sebagai media edukasi dan sosialisasi budaya Papua.
“Medsos pakai bahasa daerah, bahasa mama, bahasa ibu. Itu lebih bagus,” ujarnya Tekege kepada wartawan di ruang kerjanya
Ia menilai anak muda Papua perlu mulai menciptakan konten kreatif yang memadukan bahasa daerah dengan teknologi digital, termasuk melalui lagu, video pendek, hingga seni pertunjukan.
Tekege mencontohkan penggunaan beberapa bahasa daerah Papua dalam satu konten digital dengan makna yang sama sebagai bentuk edukasi lintas budaya.
“Misalnya satu kalimat diterjemahkan dalam bahasa Biak, Mee, Dani, Kamoro, Yaor atau Yeresiam Itu bisa jadi media pembelajaran yang menarik,” katanya.
Menurutnya, generasi muda saat ini terlalu banyak menggunakan media sosial hanya untuk hiburan semata tanpa nilai edukasi.
Karena itu, kampus berencana mendorong pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni dan budaya yang fokus mengembangkan lagu-lagu daerah Papua.
Ia juga menyoroti lagu-lagu tradisional Papua seperti “Mambesak” yang mulai kehilangan lirik dan kurang dikenal generasi muda.
“Kita harus biasakan anak muda mencintai lagu-lagu daerah dan bahasa ibu,” katanya.
Rektor berharap kemajuan teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya Papua, bukan justru menghilangkan bahasa dan tradisi lokal. (MB)








