NABIRE — Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang beredar di sejumlah media nasional mengenai insiden kekerasan di Distrik Kemburu–Pogoma.
Dalam pernyataan terbuka, Kamis (23/4/2026), Nenu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyebut pihak tertentu sebagai pelaku penembakan terhadap warga sipil, sebagaimana yang diberitakan.
“Saya tidak pernah menyatakan itu. Saya bukan penyidik, saya pemerintah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, keterlibatannya dalam peristiwa tersebut hanya sebatas menjalankan tugas sebagai pimpinan tim evakuasi korban, berdasarkan penugasan dari Bupati Puncak dalam situasi tanggap darurat.
Menurut Nenu, pemerintah daerah bersama unsur terkait telah melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan TNI dan Polri, dalam rapat yang dipimpin Gubernur Papua Tengah dan dihadiri unsur Forkopimda.
Koordinasi tersebut juga melibatkan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III di Timika, guna membuka akses menuju lokasi kejadian untuk proses evakuasi korban.
“Rapat itu bertujuan membuka akses agar tim bisa masuk ke lokasi. Pemerintah daerah tetap bersikap netral dalam menangani peristiwa ini,” ujarnya.
Nenu menegaskan, informasi yang mengatasnamakan dirinya terkait penentuan pelaku merupakan kesalahpahaman. Ia bahkan menyebut tudingan tersebut sebagai fitnah yang merugikan dirinya.
“Saya tidak pernah menyebut siapa pelaku. Semua tudingan itu tidak benar,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa proses evakuasi korban, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka, telah dilakukan bersama tim gabungan, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Pemerintah daerah, lanjutnya, juga telah menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak dan pengungsi.
Dalam kesempatan itu, Nenu mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Ia menegaskan siap menempuh jalur hukum jika tudingan terhadap dirinya terus berlanjut.
“Stop memfitnah. Jika terus berlanjut, saya akan ambil langkah hukum,” tegasnya.
Klarifikasi ini disampaikan menyusul adanya desakan dari tim investigasi HAM dan mahasiswa asal Puncak yang meminta penjelasan atas pernyataannya terkait insiden di Kemburu–Pogoma. (MB)









