NABIRE — Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem, menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siriwini 001 yang diduga melanggar standar operasional prosedur (SOP).
Penegasan tersebut disampaikan menyusul hasil peninjauan lapangan oleh Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Nabire yang menemukan sejumlah kejanggalan dalam operasional dapur tersebut.
Marsel mengatakan, meskipun klarifikasi telah disampaikan oleh pihak mitra dapur, proses evaluasi tetap akan dilakukan melalui rapat internal bersama BGN Nabire dan Satgas MBG.
“Keputusan apakah dapur tersebut akan tetap beroperasi atau tidak akan ditentukan dalam rapat evaluasi. Setelah itu, kami akan menyampaikan pernyataan resmi,” ujar Marsel, Minggu (29/3/2026).
Dapur SPPG Siriwini 001 diketahui berada di bawah naungan Yayasan DDI Bukit Cenderawasih Nabire yang dipimpin oleh Darna Damis, beralamat di Jalan Frans Kaisepo, Kelurahan Siriwini, Distrik Nabire.
Dalam inspeksi yang dilakukan, Satgas menemukan bahwa kepala SPPG tidak berada di lokasi, begitu juga mitra dapur. Operasional hanya dijalankan oleh empat karyawan.
Selain itu, kondisi mobil pemasok (supplier) juga menjadi sorotan. Kendaraan tersebut terlihat kotor dan terdapat noda yang diduga darah, yang dinilai berpotensi menimbulkan kontaminasi terhadap bahan pangan.
Wakil Ketua Satgas MBG Nabire, Yasor Victor Sawo, menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat berisiko terhadap keamanan pangan.
“Kondisi ini berbahaya karena dapat menyebabkan kontaminasi dan berdampak pada penerima manfaat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau seluruh pengelola dapur SPPG di Nabire agar menjaga kebersihan kendaraan distribusi.
“Mobil box tidak boleh disalahgunakan dan wajib dibersihkan setiap selesai digunakan,” tegasnya.
Sementara itu, Darna Damis selaku mitra dapur membantah bahwa noda yang ditemukan merupakan darah. Dalam klarifikasinya melalui pesan suara, ia menyebut bahwa noda tersebut adalah sisa kecap dari aktivitas makan karyawan.
“Mereka makan rujak di atas mobil. Itu bukan darah, tapi kecap,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa mobil belum sempat dicuci karena adanya kekhawatiran air limbah akan mencemari area dapur. Pembersihan direncanakan dilakukan di luar area dapur.
Selain itu, Darna mengaku telah mengonfirmasi langsung kepada pihak Satgas dan Korwil BGN terkait video yang beredar.
Marsel turut menyoroti dampak dari dugaan kelalaian tersebut, yang menyebabkan siswa SD Inpres Siriwini tidak menerima paket makanan pada masa Ramadan atau pasca libur.
Ia menegaskan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk terhadap pengelolaan anggaran dan layanan dapur.
“Jika terbukti melanggar prosedur, kami akan membuat laporan khusus dan menutup dapur tersebut, seperti yang sudah dilakukan pada beberapa dapur lain,” tegasnya.
Sebelumnya, BGN Nabire telah menutup sementara sejumlah dapur, di antaranya Dapur Kampung Lany di Distrik Makimi dan Dapur Siriwini 002 Mamakita karena pelanggaran serupa.
Marsel mengingatkan bahwa program MBG merupakan program nasional yang harus dijalankan secara disiplin oleh seluruh pihak.
“Program ini adalah program nasional, sehingga semua pihak harus bekerja sesuai aturan. Jika ada dapur bermasalah, bukan hanya pengelola yang terdampak, tetapi juga BGN dan Satgas,” pungkasnya. (MB)








