NABIRE — Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire kembali menggelar kegiatan rutin literasi di Asrama Kalibobo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Jumat sore (6/2/2026) pukul 17.00 WIT.
Kegiatan ini diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat sipil. Diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme, dengan fokus pada literasi sebagai alat pembebasan dan perlawanan terhadap sistem sosial yang dinilai menindas rakyat Papua.
Koordinator Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire, Kobay Bobii, menyampaikan bahwa pendidikan kritis menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran rakyat tertindas.
“Pendidikan kiri adalah jendela dunia untuk mengasah daya kritis dan pembebasan kaum tertindas dari belenggu penindasan yang terstruktur dan terorganisir. Kita melawan dengan cinta demi bangsa, melawan tiga musuh rakyat Papua, dan menyalakan api perlawanan menuju pembebasan serta sejarah alternatif gerakan rakyat Papua,” ujarnya.
Diskusi kemudian berkembang pada isu literasi sebagai senjata pembebasan. Orgenes, salah satu pengarah kegiatan literasi, menilai kondisi kemanusiaan saat ini berada dalam pusaran sistem global yang hanya menguntungkan segelintir elit.
“Kemanusiaan dalam tinjauan ekonomi, politik, sosial, dan budaya kini dikuasai sistem yang mengorbankan rakyat kecil demi kepentingan kapitalistik. Literasi adalah salah satu senjata dunia pembebasan hidup,” katanya.
Sementara itu, Eko Pinsen menegaskan bahwa literasi memiliki kekuatan besar dalam melawan ketidakadilan. Menurutnya, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan proses membangun kesadaran kritis.
“Membaca adalah cara menyusun ide-ide ilmiah secara rapi untuk menembus dinding dogmatis yang sering menjadi tameng kekuasaan. Membaca bukan untuk menjadi pintar, tetapi untuk mengasah pikiran dan mempersiapkan diri menghadapi ketidakadilan,” ujarnya.
Dalam catatan penutupan, Eko Vinsent mengulas kondisi sosial Papua yang dinilainya masih timpang. Ia menyoroti kesenjangan ekonomi yang tajam antara kelompok masyarakat.
“Kehidupan masyarakat kelas bawah hingga atas di Papua adalah potret politik ekonomi yang timpang. Kaum kaya tetap kaya, sementara kaum miskin tetap miskin. Namun perlawanan ekologis dan sosial melalui lapak baca, diskusi, dan aksi lainnya adalah bentuk nyata perjuangan rakyat,” tegasnya.
Ia menilai Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire menjadi jalan alternatif dalam melawan penindasan ekonomi, politik, dan sosial.
“Literasi adalah bentuk perlawanan. Membaca bukan hanya kegiatan intelektual, tetapi tindakan politik untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan kebodohan struktural,” katanya.
Menurutnya, melalui pendidikan kritis dan kegiatan literasi, masyarakat Papua membangun kesadaran kolektif dan solidaritas untuk mendorong perubahan sosial.
“Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire menjadi simbol perjuangan rakyat Papua untuk belajar bersama, bergerak bersama, dan menyalakan api perubahan sosial,” pungkasnya. (MB)








