NABIRE — Potensi cerita dari kampung-kampung di Papua dinilai masih belum tergali secara maksimal dalam pemberitaan media. Padahal, kampung menyimpan kekayaan pangan lokal, potensi alam, serta nilai-nilai budaya yang penting untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan wartawan Kompas, Robert Yewen, dalam workshop bertema “Dari Kampung ke Layar: Memberdayakan Komunitas dalam Produksi Media” yang dimoderatori Moses Baab pada Festival Media Se-Tanah Papua perdana di Nabire, Papua Tengah, Kamis (15/1/2026).

Yewen mengajak pelajar, mahasiswa, dan jurnalis untuk lebih aktif menulis dan mengangkat kehidupan kampung sebagai sumber cerita yang kaya dan bernilai.
“Di kampung banyak potensi, baik pangan lokal, potensi alam, maupun budaya yang dijaga dengan baik oleh masyarakat. Materi yang kami berikan ini untuk merangsang pelajar dan mahasiswa di Nabire agar mengembangkan diri dan membudayakan literasi menulis,” ujar Yewen.
Ia menekankan pentingnya memotret kehidupan inspiratif di kampung, baik melalui sosok perorangan, aktivitas masyarakat, maupun potensi budaya dan alam, agar dapat dibaca oleh publik yang lebih luas.
“Cerita-cerita kampung itu kita bawa ke layar media, termasuk melalui media sosial kita sendiri, terutama bagi pelajar dan mahasiswa,” jelasnya.
Workshop tersebut bertujuan mendorong peningkatan literasi media di kalangan generasi muda Papua serta memperkuat produksi konten berbasis lokal. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar, mahasiswa, dan jurnalis yang antusias mempelajari teknik produksi media dari perspektif komunitas.
Sebagai narasumber, Yewen juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Media Se-Tanah Papua yang digelar untuk pertama kalinya. Meski demikian, ia menyampaikan sejumlah masukan konstruktif untuk pelaksanaan ke depan.
“Festival ini sudah sangat baik sebagai kegiatan perdana. Ke depan, kita berharap ada stan dari media-media, baik cetak maupun online, agar masyarakat bisa melihat langsung kerja-kerja jurnalistik,” ujarnya.
Menurut Yewen, keberadaan stan media dapat menjadi ruang edukasi sekaligus sarana promosi profesi jurnalistik yang selama ini bekerja di balik layar.
Festival Media Se-Tanah Papua yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini berlangsung selama tiga hari, 13–15 Januari 2026, di Kabupaten Nabire. Kegiatan tersebut menghadirkan workshop, pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. (MB)








