Menu

Mode Gelap
Gubernur Papua Tengah Tetapkan BOSDA Pendidikan Gratis Tahun 2026, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat Bupati Yampit Nawipa, Kabupaten Paniai Raih Peringkat I Kinerja Penyaluran Dana Desa Terbaik di Papua Tengah Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai Imbau SMP dan SMA Terapkan Kebijakan Pendidikan Gratis Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete

Headline

Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial

Etty Welerbadge-check


					Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial Perbesar

NABIRE — Pada momentum peringatan 12 tahun penetapan noken sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, berbagai komunitas adat Papua kembali menegaskan pentingnya perlindungan budaya dan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Papua.

Noken resmi masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding UNESCO pada 4 Desember 2012 di karang pasar Nabire Papua Tengah.

Penetapan ini bertujuan melindungi dan melestarikan kerajinan tradisional Papua yang memiliki nilai budaya tinggi, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga noken sebagai bagian dari warisan dunia yang membutuhkan perlindungan mendesak.

UNESCO menyatakan bahwa perlu upaya serius untuk mencegah ancaman kepunahan noken, termasuk berkurangnya bahan baku serta melemahnya regenerasi pembuat noken akibat perubahan gaya hidup dan minimnya transmisi keterampilan tradisional.

Selain itu, noken dipandang sebagai simbol perdamaian, kebersamaan, harmoni, kesetaraan gender, identitas masyarakat Papua, serta menjadi media komunikasi sosial yang sarat makna.

Pada peringatan tahun ini, sekelompok masyarakat adat menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi lingkungan dan sosial di Tanah Papua. Melalui penyampaian tertulis, mereka menyuarakan keprihatinan atas berbagai bentuk investasi dan kebijakan yang dinilai dapat berdampak pada ruang hidup masyarakat adat dan keberlanjutan bahan baku noken.

Seruan tersebut memuat empat poin utama, yaitu:

1. Menolak PSN di Merauke, Sorong, dan wilayah lain di Tanah Papua.

2. Menghentikan seluruh investasi yang dapat berdampak buruk pada hutan—sebagai sumber kehidupan masyarakat adat dan bahan baku pembuatan noken.

3. Menolak pendropan militer di seluruh wilayah Papua.

4. Menyuarakan pemberian hak menentukan nasib sendiri bagi masyarakat Papua Barat sebagai solusi demokratis.

Pernyataan itu ditutup dengan seruan bertajuk: “Selamatkan tanah air dan bebaskan rakyat dari ancaman imperialisme, kolonialisme, dan militerisme.”

Dokumen seruan ini ditandatangani oleh penanggung jawab, Ando Douw, pada 4 Desember 2025.

Meski membawa aspirasi yang beragam, momen peringatan hari noken ini kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya Papua agar tetap hidup, lestari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Buka Festival Pelajar dan Kebudayaan Papua Tengah 2026, Gubernur Nawipa Tekankan Pelestarian Budaya dan Pendidikan Karakter

24 Juni 2026 - 11:47 WIB

IMG 20260624 WA0052

Jelang Pasar Mama-Mama Papua Beroperasi, Disperindag Deiyai Mulai Data Pedagang Asli

24 Juni 2026 - 11:36 WIB

IMG 20260624 WA0042

Dinkes Mimika Akan Launching Program MCU Usia Produktif

24 Juni 2026 - 11:08 WIB

IMG 20260624 WA0047

Puluhan Nakes RSUD Elvrida Sara Ikuti Program Magang di RSUD Mimika

24 Juni 2026 - 11:03 WIB

IMG 20260624 WA0045

Kelurahan Inauga Salurkan Bantuan Pangan Bapanas untuk 2.308 KK

24 Juni 2026 - 10:58 WIB

IMG 20260624 WA0044
Trending di Headline