Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

Headline

Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial

Etty Welerbadge-check


					Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial Perbesar

NABIRE — Pada momentum peringatan 12 tahun penetapan noken sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, berbagai komunitas adat Papua kembali menegaskan pentingnya perlindungan budaya dan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Papua.

Noken resmi masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding UNESCO pada 4 Desember 2012 di karang pasar Nabire Papua Tengah.

Penetapan ini bertujuan melindungi dan melestarikan kerajinan tradisional Papua yang memiliki nilai budaya tinggi, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga noken sebagai bagian dari warisan dunia yang membutuhkan perlindungan mendesak.

UNESCO menyatakan bahwa perlu upaya serius untuk mencegah ancaman kepunahan noken, termasuk berkurangnya bahan baku serta melemahnya regenerasi pembuat noken akibat perubahan gaya hidup dan minimnya transmisi keterampilan tradisional.

Selain itu, noken dipandang sebagai simbol perdamaian, kebersamaan, harmoni, kesetaraan gender, identitas masyarakat Papua, serta menjadi media komunikasi sosial yang sarat makna.

Pada peringatan tahun ini, sekelompok masyarakat adat menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi lingkungan dan sosial di Tanah Papua. Melalui penyampaian tertulis, mereka menyuarakan keprihatinan atas berbagai bentuk investasi dan kebijakan yang dinilai dapat berdampak pada ruang hidup masyarakat adat dan keberlanjutan bahan baku noken.

Seruan tersebut memuat empat poin utama, yaitu:

1. Menolak PSN di Merauke, Sorong, dan wilayah lain di Tanah Papua.

2. Menghentikan seluruh investasi yang dapat berdampak buruk pada hutan—sebagai sumber kehidupan masyarakat adat dan bahan baku pembuatan noken.

3. Menolak pendropan militer di seluruh wilayah Papua.

4. Menyuarakan pemberian hak menentukan nasib sendiri bagi masyarakat Papua Barat sebagai solusi demokratis.

Pernyataan itu ditutup dengan seruan bertajuk: “Selamatkan tanah air dan bebaskan rakyat dari ancaman imperialisme, kolonialisme, dan militerisme.”

Dokumen seruan ini ditandatangani oleh penanggung jawab, Ando Douw, pada 4 Desember 2025.

Meski membawa aspirasi yang beragam, momen peringatan hari noken ini kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya Papua agar tetap hidup, lestari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Meninggal Akibat Kondisi Kesehatan, Pria 45 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Dilantai

6 November 2026 - 07:17 WIB

IMG 20261106 WA0010

DPO Kasus Penembakan Brigpol Ronald Enok Ditangkap di Puncak Jaya, Seorang Warga Ikut Diamankan

6 November 2026 - 07:11 WIB

IMG 20261106 WA0007

Perkuat Tata Kelola Organisasi, KINGMI di Tanah Papua Gelar Sosialisasi AD/ART di Deiyai

6 November 2026 - 07:07 WIB

IMG 20261106 WA0005

Polres Mimika Perkuat Benteng Pencegahan Narkoba Lewat Dua Posko Bersinar

6 November 2026 - 05:41 WIB

IMG 20261106 WA0019

211 Warga Pasar Sentral Terima Bantuan Pangan, Leni Tonglo Pastikan Tepat Sasaran

6 November 2026 - 05:38 WIB

IMG 20261106 WA0016
Trending di News