Menu ✖

Mode Gelap
Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat Meki–Deinas: Ketika Langit dan Gunung Bertemu

Headline

1.700 Kasus TBC Ditemukan di Nabire, Dinkes Ingatkan Pasien Jangan Putus Pengobatan

Etty Welerbadge-check


					1.700 Kasus TBC Ditemukan di Nabire, Dinkes Ingatkan Pasien Jangan Putus Pengobatan Perbesar

NABIRE – Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mencatat sebanyak 1.700 kasus tuberkulosis (TBC) ditemukan hingga September 2026. Angka tersebut baru mencapai sekitar 70 persen dari target estimasi penemuan kasus sebanyak 2.436 kasus.

Capaian ini menunjukkan bahwa upaya menemukan penderita TBC di Kabupaten Nabire masih perlu ditingkatkan. Selain memperluas pemeriksaan, pemerintah juga menghadapi tantangan memastikan pasien yang telah terdiagnosis menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) atau Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Alfred Denis Lambey, mengatakan penemuan kasus TBC terus dilakukan melalui puskesmas, rumah sakit, dan klinik yang memberikan pelayanan kesehatan.

Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (30/10/2026).

Menurut Alfred, capaian penemuan kasus saat ini masih berada pada angka 70 persen, sedangkan target yang ditetapkan sebesar 90 persen.

Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), rumah sakit menjadi fasilitas pelayanan kesehatan dengan jumlah penemuan kasus tertinggi. Sementara itu, di tingkat puskesmas, Puskesmas Bumi Wonorejo mencatat 202 kasus, disusul Puskesmas Karang Tumaritis sebanyak 181 kasus.

Selanjutnya, Puskesmas SP Kalibobo mencatat 109 kasus, Siriwini 106 kasus, dan Samabusa sebanyak 86 kasus.

TBC Menular Melalui Udara

Alfred menjelaskan, tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang bagian tubuh lain, seperti tulang, kelenjar getah bening, hingga selaput otak.

Penularan TBC dapat terjadi melalui udara ketika penderita mengeluarkan percikan yang mengandung bakteri saat batuk, bersin, atau berbicara. Percikan tersebut dapat terhirup oleh orang lain yang berada di sekitarnya.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejala TBC sejak dini. Beberapa tanda yang harus diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan lebih dari tiga minggu, sesak napas, nyeri dada, demam ringan, menggigil, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun, kehilangan nafsu makan, dan tubuh mudah lelah.

Untuk mendukung pemeriksaan dan pengobatan, Kabupaten Nabire memiliki 32 puskesmas, satu rumah sakit, serta sejumlah klinik yang turut memberikan pelayanan kesehatan.

Alfred mengatakan, masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan dapat mendatangi fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan. Salah satu metode pemeriksaan yang digunakan adalah Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan menggunakan sampel dahak untuk mendeteksi bakteri penyebab TBC.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan positif TBC, pasien dapat segera diarahkan untuk mendapatkan pengobatan sesuai jenis penyakitnya.

Pengobatan Harus Sampai Tuntas

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Dinas Kesehatan Nabire adalah masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan ketika kondisi tubuh mulai membaik.

Padahal, pasien TBC sensitif obat (TBC SO) umumnya membutuhkan pengobatan selama enam bulan. Sementara pasien TBC resisten obat (TBC RO) membutuhkan waktu pengobatan lebih panjang. Dalam penanganan sebelumnya, pengobatan TBC RO bahkan dapat berlangsung selama 18 hingga 20 bulan.

Alfred mengingatkan bahwa pasien tidak boleh menghentikan konsumsi obat hanya karena sudah merasa sehat.

“Biasanya orang minum obat TBC selama satu bulan, kemudian merasa sudah enak dan tidak melanjutkan pengobatan. Ini yang harus kita hindari. Obat harus diminum secara teratur selama enam bulan untuk membunuh kuman Mycobacterium tuberculosis di dalam tubuh,” jelasnya.

Ia menegaskan, penghentian pengobatan tanpa arahan tenaga kesehatan dapat menyebabkan pengobatan gagal dan meningkatkan risiko terjadinya resistensi obat. Kondisi tersebut membuat penanganan TBC menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, capaian enrollment rate atau tingkat pasien TBC sensitif obat yang memulai pengobatan telah mencapai 90 persen dari target 95 persen.

Menurut Alfred, capaian tersebut merupakan hasil kerja petugas kesehatan di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Namun, upaya berikutnya adalah memastikan pasien yang telah terdiagnosis benar-benar menjalani pengobatan sampai selesai.

Masyarakat Diajak Terapkan Gerakan TOSS TBC

Untuk memperkuat penanggulangan penyakit ini, Alfred mengajak masyarakat mendukung gerakan TOSS TBC, yaitu Temukan, Obati, Sampai Sembuh.

Gerakan tersebut mengajak masyarakat lebih peduli terhadap gejala TBC, segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala, serta mendukung pasien agar menjalani pengobatan sampai dinyatakan sembuh.

Dalam proses pengobatan, pasien juga perlu mendapatkan pendampingan dari Pengawas Menelan Obat (PMO). Pendamping dapat berasal dari anggota keluarga, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, maupun kader kesehatan.

Alfred menambahkan, Pemerintah Kabupaten Nabire telah memberikan perhatian terhadap pengendalian TBC melalui surat edaran bupati dan keputusan terkait upaya penanggulangan penyakit tersebut pada 2026.

Ia juga memastikan obat TBC tersedia secara gratis di puskesmas. Ketersediaan obat tersebut didukung oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehingga masyarakat dapat memperoleh akses pengobatan tanpa harus terbebani biaya pembelian obat.

Selain persoalan pengobatan, Alfred meminta masyarakat menghilangkan stigma atau pandangan negatif terhadap orang yang terdiagnosis TBC.

Menurutnya, penderita TBC tidak seharusnya dijauhi atau dikucilkan. Sebaliknya, keluarga dan lingkungan sekitar perlu memberikan dukungan agar pasien memiliki semangat menjalani pengobatan.

“Kalau ada keluarga atau saudara kita yang terinfeksi TBC, jangan jauhi mereka. Berikan pengertian dan dukungan karena TBC dapat disembuhkan apabila pasien minum obat secara teratur sampai tuntas,” ujarnya.

Alfred menegaskan, pengendalian TBC bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan dan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.

Dengan mengenali gejala lebih awal, segera melakukan pemeriksaan, serta memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas, risiko penularan TBC kepada keluarga dan lingkungan sekitar dapat ditekan. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Dipicu Isu Tabrak Orang, Massa Bakar Mobil di Kwamki Narama, Polisi Lakukan Pengejaran

31 Oktober 2026 - 00:28 WIB

IMG 20261031 WA0024

Pengembangan Kasus Curanmor, Polda Papua Temukan 25 Kendaraan di Rusunawa Uncen

30 Oktober 2026 - 06:48 WIB

IMG 20261030 WA0082

Papua Tengah Terima 3 Juta Bibit Kakao, Petani Nabire Ditargetkan Mulai Tanam Akhir 2026

30 Oktober 2026 - 06:39 WIB

IMG 20261030 WA0078

Kasus Penganiayaan Berakhir Kematian GAR, Polisi Resmi Tetapkan Tiga Orang Tersangka 

30 Oktober 2026 - 06:21 WIB

IMG 20261030 WA0050

Minim Saksi dan CCTV Tak Merekam, Misteri Pembuangan Bayi di Timika Belum Terungkap

30 Oktober 2026 - 06:00 WIB

IMG 20261030 WA0049
Trending di Headline