TIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Perhubungan mulai mematangkan rencana pembangunan dua pelabuhan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) untuk memperkuat konektivitas transportasi masyarakat di wilayah pesisir dan pedalaman.

Dua lokasi yang menjadi fokus perencanaan tersebut berada di Kampung Otakwa, Distrik Mimika Timur Jauh, dan Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika, Alfasiah, mengatakan penetapan lokasi tersebut merupakan hasil kajian lapangan dan pembahasan bersama sejumlah perangkat daerah serta pemerintah distrik.
Khusus untuk Mimika Barat Tengah, lokasi pembangunan yang sebelumnya direncanakan di Kampung Uta kini dialihkan ke Kampung Kapiraya. Pergeseran tersebut dilakukan setelah hasil kajian menunjukkan kondisi geografis Uta kurang mendukung pengoperasian kapal secara optimal.
“Kalau di Uta, ketika air surut kapal sudah tidak bisa masuk karena kedalaman sungainya tidak memungkinkan. Selain itu, akses jalannya juga cukup sulit,” kata Alfasiah, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, kondisi kedalaman sungai saat air laut surut menjadi salah satu pertimbangan utama. Selain itu, akses menuju Uta yang masih sulit dinilai belum cukup mendukung fungsi pelabuhan sebagai simpul transportasi yang dapat menghubungkan masyarakat dan aktivitas ekonomi antarwilayah.
Sementara itu, perencanaan pembangunan kedua pelabuhan tersebut telah berjalan sekitar satu bulan dengan melibatkan PT Trimako Abdi Konsulindo sebagai konsultan perencana.
Dalam proses tersebut, konsultan telah melakukan survei lapangan, pengukuran serta pengumpulan berbagai data teknis sebagai dasar penyusunan dokumen perencanaan.
Pembangunan dua pelabuhan ini diarahkan tidak hanya untuk menyediakan fasilitas transportasi laut, tetapi juga mengintegrasikan konektivitas laut dan darat. Salah satu jalur yang diharapkan dapat diperkuat adalah konektivitas Poumako–Potowai Buru hingga Kapiraya.

Untuk lokasi di Otakwa, Bappeda bersama Dinas PUPR meminta disiapkan tiga alternatif titik pembangunan, masing-masing di sekitar muara, titik tengah, dan bagian bawah. Alternatif tersebut akan dikaji lebih lanjut untuk menentukan lokasi yang paling layak dari sisi teknis, keselamatan, aksesibilitas, maupun kebutuhan masyarakat.
Dari hasil perencanaan sementara, kebutuhan anggaran pembangunan pelabuhan di Kapiraya diperkirakan lebih dari Rp30 miliar, sedangkan pembangunan pelabuhan di Otakwa diperkirakan sekitar Rp38 miliar.
Namun, angka tersebut masih bersifat estimasi dan dapat berubah karena dokumen perencanaan hingga kini belum final.
Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, menegaskan pembangunan infrastruktur transportasi, khususnya di wilayah yang memiliki tantangan geografis, harus diawali dengan perencanaan yang matang dan terukur.
Ia meminta seluruh aspek diperhitungkan secara komprehensif, mulai dari kondisi geografis, lingkungan, keselamatan pelayaran, akses transportasi hingga kebutuhan masyarakat yang akan menggunakan fasilitas tersebut.
“Perencanaan pembangunan harus terarah, terukur dan berkelanjutan agar setiap program yang kita lakukan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat,” jelasnya.
Kemong berharap studi perencanaan tersebut tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi menjadi dasar untuk merealisasikan pembangunan fisik kedua pelabuhan sehingga masyarakat di wilayah Mimika Timur Jauh dan Mimika Barat Tengah dapat memperoleh akses transportasi yang lebih aman, mudah dan terintegrasi.

Dengan pembangunan infrastruktur tersebut, Pemkab Mimika juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antarkampung, membuka akses distribusi barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir dan pedalaman. (Cr2)







