NABIRE – Di saat sebagian anak muda sibuk menggulir layar telepon genggam, seorang perempuan berusia 56 tahun justru memilih duduk di atas aspal Jalan Baru Mapiduba, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sambil membaca buku.
Perempuan itu adalah Mama Makdalena Makai. Ia datang dan bergabung bersama anak-anak dalam Program MABUK (Mari Baca Buku) yang digagas Rumah Inspirasi Kebadabi.
Tidak banyak bicara. Tidak membuat keributan. Mama Makdalena hanya mengambil sebuah buku, membuka halaman demi halaman, kemudian membacanya dengan tenang.
Sore perlahan menuju petang. Anak-anak datang dan pergi. Buku-buku berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun, Mama Makdalena tetap tekun membaca.
Inisiator atau Founder Rumah Inspirasi Kebadabi, Mecky Tebai, mengatakan pemandangan tersebut menjadi sebuah pengalaman yang menyentuh sekaligus refleksi bagi generasi muda saat ini.
Dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (11/9/2026), Mecky menyebut semangat membaca Mama Makdalena di usia 56 tahun seharusnya menjadi contoh bagi anak-anak muda yang masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar.
“Seorang Mama berusia 56 tahun masih mau duduk membaca di atas aspal. Lalu kita yang masih muda, masih kuat, masih punya banyak kesempatan ini, apa alasan kita untuk tidak membaca?” ujar Mecky.
Menurutnya, persoalan generasi muda saat ini bukan semata-mata karena kurangnya akses terhadap pengetahuan. Sebaliknya, perkembangan teknologi telah membuat berbagai sumber pengetahuan semakin mudah dijangkau.
Namun, kemudahan tersebut terkadang justru lebih banyak digunakan untuk hiburan dan aktivitas di media sosial.
“Satu jari begitu cepat menggulir layar. Satu jam bisa habis untuk menonton video pendek. Dua jam bisa berlalu untuk melihat kehidupan orang lain di media sosial. Tetapi membuka satu buku? Nanti saja,” katanya.
Founder Koraslima Papua itu menilai kondisi tersebut menjadi ironi ketika generasi muda memiliki keinginan untuk meraih masa depan yang besar, tetapi tidak selalu diikuti kemauan untuk belajar dan membaca.
Mama Makdalena, kata dia, justru menunjukkan hal yang berbeda.
Ia tidak menunggu ruang kelas yang nyaman, perpustakaan yang megah, maupun fasilitas yang lengkap. Di atas aspal Jalan Baru Mapiduba, ia tetap membuka buku dan membaca.
“Kalau Mama Makdalena tidak menyerah, mengapa kita harus malas?” kata Mecky.
Membaca Tidak Mengenal Usia
Bagi Mecky, kehadiran Mama Makdalena dalam kegiatan MABUK bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang membaca buku.
Ia melihatnya sebagai simbol bahwa rasa ingin tahu dan semangat belajar tidak seharusnya berhenti hanya karena usia bertambah.
Sebaliknya, bagi generasi muda, pemandangan tersebut menjadi sebuah pertanyaan.
“Kalau usia 56 tahun saja masih mau belajar, mengapa usia 17, 20, atau 25 tahun sudah merasa tahu semuanya?” ujarnya.
Mecky juga menyoroti kondisi generasi muda yang hidup di tengah kemajuan teknologi. Telepon pintar, internet, sekolah, kampus, hingga berbagai sumber pengetahuan tersedia dalam genggaman.
Namun, menurutnya, kemudahan akses tersebut harus diimbangi dengan kemauan untuk belajar.
“Kita hidup di zaman ketika satu genggaman bisa membuka jutaan buku, tetapi justru semakin sulit membuka satu buku,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan yang dihadapi generasi muda mungkin bukan kekurangan waktu, melainkan bagaimana waktu tersebut digunakan.
“Kita punya internet untuk mencari ilmu, tetapi lebih sering menggunakannya untuk mencari hiburan. Kita punya waktu untuk berjam-jam menatap layar, tetapi mengatakan tidak punya waktu untuk membaca,” ujarnya.
MABUK dan Harapan dari Jalan Baru Mapiduba
Mecky berharap kegiatan MABUK dapat terus menjadi ruang positif bagi anak-anak dan generasi muda di Kompleks Jalan Baru Mapiduba.
Menurutnya, anak-anak tetap boleh bermain, tertawa dan menikmati masa muda. Namun, kebiasaan membaca dan belajar harus tetap ditanamkan sejak dini.
“Jangan sampai mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih mengenal isi media sosial daripada isi buku,” katanya.
Ia mengatakan buku yang dibentangkan di atas aspal Jalan Baru Mapiduba bukan sekadar tumpukan kertas, tetapi menjadi pintu menuju pengetahuan, keberanian dan masa depan.
Mecky membayangkan, anak-anak yang hari ini duduk membaca di jalan tersebut suatu saat dapat tumbuh menjadi guru, dokter, pemimpin, penulis, peneliti maupun orang-orang yang membawa perubahan bagi tanah Papua.
“Hari ini mereka hanya membaca beberapa halaman. Tetapi dari halaman-halaman kecil itu, masa depan bisa dimulai,” ujarnya.
Bagi Mecky, Mama Makdalena telah memberikan pelajaran tanpa harus banyak berbicara. Di usia 56 tahun, ia masih menunjukkan bahwa belajar dan membaca tidak memiliki batas usia.
“Jangan menunggu menjadi tua untuk sadar bahwa membaca itu penting,” katanya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk mulai membangun kembali kebiasaan membaca.
“Duduklah. Ambil buku. Baca,” ajaknya.
Mecky berharap gerakan kecil yang dilakukan melalui MABUK di Mapiduba dapat terus tumbuh dan melahirkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir, belajar, bertanya dan menciptakan perubahan.
Sebab, menurutnya, masa depan tidak akan berubah hanya karena seseorang pandai menggulir layar telepon genggam. Masa depan akan berubah ketika ada kemauan untuk belajar dan melakukan sesuatu.
MABUK di Mapiduba. Kecil, tetapi berdampak. (MB)







