NABIRE — Wakil Ketua II DPRP Papua Tengah, Dr. Drs. Petrus Izaach Suripatty, M.Si., menyatakan dukungannya terhadap imbauan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa untuk menggelar doa dan puasa bersama lintas agama dalam menghadapi dampak fenomena El Nino.
Mantan rektor USWIM itu mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama TNI dan Polri dalam meminimalisasi dampak El Nino, termasuk melalui pembentukan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) serta berbagai upaya penanganan di lapangan.
“Pertama saya apresiasi kepada pemerintah daerah, TNI dan Polri atas langkah cepat yang dilakukan untuk meminimalisasi dampak daripada gejala El Nino, salah satunya dengan terbentuknya Satgas Karhutla dan upaya-upaya yang telah dilakukan,” ujarnya kepada wartawan saat dimintai keterangan Rabu, (2/9/2026)
Menurutnya, El Nino bukan hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan dampak multidimensi, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan hingga perekonomian masyarakat.
Ia menyebut dampak yang sebelumnya telah disampaikan kini mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Papua Tengah.
Karena itu, Suripatty menilai langkah Gubernur Papua Tengah yang mengajak seluruh umat beragama untuk melakukan doa dan puasa bersama merupakan langkah yang sangat baik dan perlu didukung seluruh masyarakat.
“Saya pada prinsipnya sangat mendukung langkah Bapak Gubernur untuk diadakannya doa bersama atau doa puasa secara khusyuk oleh seluruh umat yang ada di Provinsi Papua Tengah,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan oleh umat Kristen, Katolik, Islam, Hindu maupun Buddha melalui tempat-tempat ibadah masing-masing, seperti gereja, masjid dan pura.
Petrus mengatakan fenomena El Nino merupakan fenomena alam yang berada di luar kendali manusia. Karena itu, selain berbagai upaya teknis yang dilakukan pemerintah bersama TNI dan Polri, masyarakat juga perlu mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa.
“Alam ini kan semua di bawah kendali Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika selaku umat kita meminta kepada Tuhan, saya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak mungkin akan memberi beban yang lebih berat untuk dipikul oleh umat-Nya,” tuturnya.
Namun, Petrus menekankan bahwa doa harus disertai dengan upaya menjaga perilaku dan kehidupan sosial masyarakat. Ia mengajak masyarakat menghindari tindakan-tindakan yang dapat merusak kebersamaan dan kedamaian.
Menurutnya, beberapa kejadian kriminal yang terjadi belakangan ini, seperti pembegalan dan pembunuhan, merupakan tindakan yang harus bersama-sama dicegah.
“Kita juga berupaya untuk menghindari tindakan-tindakan yang mendukakan hati Tuhan. Belakangan ini kita menyaksikan ada tindakan-tindakan dari oknum-oknum yang bagi kami sangat mendukakan hati Tuhan. Ada terjadi pembegalan, pembunuhan, dan ini sebenarnya harus kita berupaya untuk hindari,” tegasnya.
Petrus juga mengingatkan masyarakat bahwa dampak El Nino diperkirakan belum akan segera berakhir. Berdasarkan prediksi lembaga yang memiliki kompetensi di bidang meteorologi, kondisi tersebut masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Ia mengajak seluruh masyarakat, pemerintah, TNI, Polri, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun kebersamaan dalam menghadapi kondisi tersebut.
“Saya yakin dan percaya bahwa dengan kebersamaan yang kita bangun, pasti kita mampu untuk bisa bersama-sama keluar daripada dampak fenomena alam El Nino yang masih akan terus melanda daerah kita ini,” ujarnya.
Petrus berharap doa dan puasa bersama yang diinisiasi Gubernur Papua Tengah menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mendorong semua pihak tetap melakukan langkah nyata dalam menghadapi dampak kekeringan, kebakaran hutan dan lahan serta berbagai persoalan yang muncul akibat cuaca ekstrem.
“Ini imbauan atau dukungan yang dapat saya berikan secara pribadi maupun selaku anggota Dewan Provinsi Papua Tengah,” pungkasnya. (MB)






