PUNCAK – Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRP Papua Tengah) mendorong pemerintah daerah membangun gudang cadangan pangan lokal serta memberikan pelatihan kepada masyarakat di wilayah rawan bencana cuaca ekstrem, khususnya Kabupaten Puncak.
Dorongan tersebut disampaikan Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, dalam keterangan tertulis melalui WhatsApp kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).
John mengatakan, fenomena hujan es yang terjadi di Kabupaten Puncak menjadi perhatian serius karena berpotensi merusak tanaman pangan yang menjadi sumber kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, fenomena hujan es di wilayah tersebut bukan merupakan kejadian yang sepenuhnya baru. Dalam sejumlah pembahasan dan rapat, fenomena tersebut disebut berulang terutama pada periode Agustus hingga Oktober.
“Selain karhutla, hujan es di Kabupaten Puncak dan ancaman krisis pangan sudah sering terjadi,” demikian disampaikan John dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, kerusakan tanaman akibat hujan es dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan masyarakat. Jika hasil pertanian mengalami kerusakan dalam jumlah besar, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekurangan bahan makanan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah pegunungan dan memiliki keterbatasan akses terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
DPR Dorong Gudang Cadangan Pangan
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DPR Papua Tengah mendorong pemerintah daerah membangun gudang cadangan pangan lokal di wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana dan cuaca ekstrem.
Gudang pangan tersebut diharapkan menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan daerah. Dengan adanya persediaan pangan yang tersimpan, masyarakat tetap memiliki cadangan makanan ketika tanaman pertanian mengalami kerusakan akibat hujan es maupun kondisi cuaca ekstrem lainnya.
“Gudang tersebut diharapkan menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan sehingga masyarakat tetap memiliki persediaan makanan ketika hasil pertanian mengalami kerusakan,” jelasnya.
Masyarakat Perlu Dilatih Mengawetkan Ubi dan Keladi
Selain pembangunan gudang pangan, John juga mendorong pemerintah memperkuat ketahanan pangan berbasis komoditas lokal.
Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan pelatihan mengenai cara mengolah dan mengawetkan bahan pangan lokal, seperti ubi dan keladi, agar dapat disimpan dalam waktu lebih lama.
Pelatihan tersebut dinilai penting agar hasil pertanian yang tersedia tidak hanya dikonsumsi dalam jangka pendek, tetapi juga dapat diolah menjadi persediaan pangan yang bisa digunakan ketika terjadi kerusakan tanaman atau gangguan distribusi bahan makanan.
“Pemerintah daerah diminta memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengolahan dan pengawetan pangan lokal seperti ubi dan keladi, sehingga bahan makanan dapat disimpan lebih lama dan digunakan sebagai cadangan ketika terjadi kerusakan tanaman,” katanya.
John menilai, penguatan pangan lokal merupakan langkah strategis karena masyarakat di wilayah pegunungan memiliki berbagai sumber pangan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sumber pangan lokal tersebut perlu dikembangkan secara lebih terencana sebagai bagian dari strategi menghadapi bencana dan perubahan kondisi cuaca.
“Pendekatan tersebut penting karena masyarakat di wilayah pegunungan memiliki sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi menghadapi bencana dan perubahan kondisi cuaca,” pungkasnya. (MB)







