Menu ✖

Mode Gelap
Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat Meki–Deinas: Ketika Langit dan Gunung Bertemu Pastor Berusia 36 Tahun Ditemukan Meninggal di Kolam Renang Kuala Kencana Sempat Viral Pimpin Upacara Hardiknas, Deki Degei Berterima Kasih kepada Gubernur Papua Tengah Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026

Headline

Damai Adat di Kampung Amole Akhiri Konflik Berkepanjangan di Kwamki Narama

Etty Welerbadge-check


					Damai Adat di Kampung Amole Akhiri Konflik Berkepanjangan di Kwamki Narama Perbesar

TIMIKA – Konflik berkepanjangan yang melibatkan dua kelompok keluarga di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, akhirnya berakhir. Melalui prosesi perdamaian adat yang berlangsung di Kampung Amole, Rabu (24/6/2026), kedua belah pihak sepakat mengakhiri perselisihan dan membuka lembaran baru demi kehidupan yang lebih damai dan harmonis.

IMG 20260624 WA0035

Momen bersejarah tersebut dihadiri Pemerintah Kabupaten Mimika, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, serta perwakilan keluarga dari kedua kubu yang selama ini bertikai. Prosesi adat yang berlangsung khidmat menjadi simbol berakhirnya konflik sekaligus penegasan komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan persatuan masyarakat Kwamki Narama.

Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman menyebut hari perdamaian itu sebagai momentum yang membahagiakan bagi seluruh masyarakat, khususnya kedua kelompok yang telah lama hidup dalam bayang-bayang konflik.

“Hari ini adalah hari yang berbahagia untuk kita semua, baik kubu atas maupun kubu bawah. Fokus kita adalah perdamaian,” ujar Billyandha di hadapan masyarakat yang hadir.

IMG 20260624 WA0031

Ia mengingatkan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan mekanisme yang tersedia, bukan dengan kekerasan yang hanya meninggalkan luka dan korban.

“Perang tidak pernah menyelesaikan masalah. Semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak korban yang berjatuhan. Saya bukan orang Papua, tetapi saya cinta Papua,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Billyandha juga mengajak seluruh pihak mengubur rasa dendam yang selama ini menjadi pemicu utama pertikaian. Bahkan, hujan yang turun saat prosesi berlangsung ia maknai sebagai pertanda baik dan berkah atas lahirnya perdamaian.

“Kita laksanakan perdamaian ini dengan sukacita. Tidak ada lagi dendam di antara kita. Mari hapus semua itu,” katanya.

Sementara itu, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang suku, melainkan pertikaian antarkeluarga yang harus segera diakhiri demi masa depan generasi berikutnya.

“Saya tegaskan, ini bukan perang suku. Ini konflik antar keluarga. Hari ini kita tutup semuanya dan kembali hidup sebagai satu keluarga besar,” ujar Johannes.

Menurutnya, berbagai upaya perdamaian sebenarnya telah dilakukan sebelumnya. Namun, diperlukan pertemuan lanjutan agar kesepakatan yang tercapai benar-benar diterima dan dijalankan oleh seluruh pihak.

IMG 20260624 WA0038

Johannes berharap perdamaian yang telah disepakati melalui mekanisme adat itu dapat menjadi komitmen bersama yang dijaga dan dihormati dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita ini sedikit. Jangan sampai kita saling menghilangkan satu sama lain. Mari jaga persaudaraan yang kita miliki,” pesannya.

Sebagai bentuk tanggung jawab bersama, perwakilan kedua keluarga turut menandatangani kesepakatan perdamaian. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mencegah konflik serupa kembali terjadi di masa mendatang.

Bupati juga menilai terciptanya situasi yang aman dan kondusif akan memberikan ruang yang lebih luas bagi pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kwamki Narama.

“Semoga hari ini menjadi berkat bagi kita semua. Ini adalah awal baru bagi Kwamki Narama untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Usai penyampaian pesan dari pemerintah dan aparat keamanan, prosesi dilanjutkan dengan ritual adat yang berlangsung penuh khidmat. Kesepakatan damai yang lahir dari Kampung Amole diharapkan menjadi titik balik bagi masyarakat Kwamki Narama untuk membangun kehidupan yang rukun, aman, dan saling menghormati, sekaligus menandai berakhirnya satu babak konflik yang telah lama membayangi wilayah tersebut. (IT)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wilhelmus Pigai Dukung Pencabutan Izin Tambang Bermasalah, Minta Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal di Papua Tengah

23 Oktober 2026 - 02:36 WIB

IMG 20261023 WA0018

Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal

23 Oktober 2026 - 01:21 WIB

IMG 20261023 WA0014

Pemkab Mimika Matangkan Perencanaan Kota Kapiraya, Siapkan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Wilayah Pesisir

22 Oktober 2026 - 16:14 WIB

20261022

Disdik Mimika Buka Dispensasi Sekolah di Tengah Kebijakan PJJ Akibat Kabut Asap

22 Oktober 2026 - 15:25 WIB

IMG 20261022 WA0003

Wabup Nabire Tekankan Edukasi dan Deteksi Dini dalam Pencegahan Penyakit Menular

22 Oktober 2026 - 15:19 WIB

IMG 20261023 WA0027
Trending di Headline