NABIRE — Di bawah payung sederhana yang mulai pudar warnanya, seorang mama Papua duduk menjaga dagangannya di Pasar Oyehe. Waktu menunjukkan sore hari, namun aktivitas jual beli masih berlangsung. Baginya, hari kerja belum selesai. Seperti biasa, ia akan bertahan hingga malam. Di tempat inilah ia menghabiskan puluhan tahun hidupnya.
“Dari pagi jam 7 sampai malam jam 10 kita jualan. Tidak pikir capek, semua demi anak-anak sekolah,” kata Mama Krice Mote ketika temui ditempat jualan Kamis, 23 April 2026
Namun di balik rutinitas itu, tersimpan pertanyaan yang tak kunjung terjawab—pertanyaan yang kembali menguat setelah kunjungan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, ke Nabire pada 20 April 2026.
“Pejabat datang, kita mau tanya: apa yang berubah? Harapan mama-mama itu apa, dan hasilnya apa? Sampai sekarang tidak ada,” ujarnya.
Konflik yang Memanas, Warga yang Terdesak
Pertanyaan itu muncul di tengah situasi yang jauh dari tenang. Sejak 13 April 2026, konflik bersenjata di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, kembali memanas.
Kontak senjata antara aparat TNI dan kelompok bersenjata TPNPB-OPM di Distrik Pogoma dan Kembru berlanjut selama beberapa hari.
Laporan dari berbagai pihak menyebutkan, sedikitnya 12 hingga 15 warga sipil tewas, termasuk perempuan, anak-anak, bahkan seorang ibu hamil. Sedikitnya tujuh orang lainnya mengalami luka serius, sementara ratusan warga terpaksa mengungsi ke hutan dan wilayah lain dengan akses bantuan yang sangat terbatas.
Komnas HAM menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling berat sepanjang tahun 2026. Dampaknya tidak hanya pada korban jiwa, tetapi juga terganggunya pendidikan, terbatasnya layanan kesehatan, serta tersendatnya distribusi logistik.
Berbagai pihak, termasuk Majelis Rakyat Papua dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, mendorong pendekatan dialogis dan humanis sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan.
Namun, bagi masyarakat kecil di Nabire, gema konflik itu terasa jauh sekaligus dekat—jauh dari pusat perhatian, namun dekat dalam rasa ketidakpastian.
Di Pasar Oyehe, Waktu Seakan Berhenti
Pasar Oyehe bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang hidup bagi mama-mama Papua yang menggantungkan harapan pada hasil kebun dan dagangan sederhana.
Mama Krice yang ditemui mengaku telah berjualan di tempat itu selama lebih dari 50 tahun. Namun, menurutnya, tidak banyak perubahan berarti yang ia rasakan.
“Kita sudah lama sekali di sini. Tapi pasar yang dibangun untuk mama-mama Papua itu tidak pernah diatur baik. Pemerintah tidak pernah turun lihat langsung,” katanya.
Ia juga menyoroti semakin sempitnya ruang bagi mama-mama asli Papua untuk bertahan di tengah persaingan.
“Hak mama Papua itu harus dijaga. Tapi sekarang pedagang dari luar juga masuk, pakai timbangan. Kita jual hasil kebun, jadi tidak seimbang,” ujarnya.
Janji Bantuan yang Tak Pernah Sampai
Kekecewaan lain datang dari pengalaman menerima bantuan yang tak pernah benar-benar tiba.
“Mereka datang ambil gambar, minta KTP, tapi bantuan tidak pernah sampai. Saya hidup menjanda sampai sekarang, tidak pernah ada bantuan yang saya pegang sendiri,” katanya.
Bagi mama-mama Papua, harapan mereka tidak rumit. Mereka hanya ingin bantuan yang nyata dan tepat sasaran, bukan sekadar pendataan atau dokumentasi.
“Kalau memang ada bantuan, turun langsung kasih. Jangan hanya datang lalu pergi,” tegasnya.
Kunjungan yang Tak Mengubah Keadaan
Kunjungan Wakil Presiden ke Nabire sempat membawa harapan. Dalam agenda tersebut, Gibran Rakabuming Raka meninjau sejumlah infrastruktur strategis, seperti Bandara Douw Aturure dan kawasan pusat pemerintahan.
Namun bagi mama-mama Papua di Pasar Oyehe, perubahan itu belum terasa.
“Kita masih pakai payung sendiri, lampu tidak ada. Kalau malam kita pakai pelita. Jadi kunjungan itu tidak ada manfaat langsung bagi kita,” kata Mama Mote.
Ia bahkan menilai, kunjungan pejabat negara, baik presiden maupun wakil presiden, belum pernah memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka.
“Mau siapa saja datang, tetap sama saja. Tidak ada perubahan,” tambahnya.
Bantuan yang Datang dari Jalan Lain
Di tengah minimnya perhatian dari pemerintah, bantuan justru datang dari pihak lain.
“Yang sering bantu itu gereja-gereja. Mereka datang kasih beras, minyak, gula. Kalau pemerintah, hampir tidak pernah,” ujarnya.
Hal ini menjadi ironi tersendiri, ketika negara hadir melalui kunjungan resmi, tetapi tidak selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Harapan yang Sederhana di Tengah Realita yang Berat.
Di tengah konflik yang belum mereda dan pembangunan yang terus digaungkan, mama-mama Papua tidak berbicara tentang strategi besar atau kebijakan tinggi.
Mereka hanya menginginkan hal sederhana: tempat jualan yang layak, keadilan dalam berusaha, dan perhatian yang nyata.
“Kita ini hidup dari pasar. Kita hanya mau bisa makan dan sekolahkan anak-anak,” katanya.
Di Pasar Oyehe, di bawah payung sederhana dan cahaya pelita, kehidupan terus berjalan. Namun pertanyaan itu tetap menggantung di udara—tentang negara, tentang kehadiran, dan tentang perubahan yang tak kunjung tiba. (MB)









