Menu

Mode Gelap
BULD DPD RI Uji Publik Regulasi Pendidikan Bali, Soroti Kewenangan Pusat dan Daerah Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua

Headline

Desakan Hentikan Kekerasan di Dogiyai, Senator Soroti Dugaan Pelanggaran HAM

Etty Welerbadge-check


					Desakan Hentikan Kekerasan di Dogiyai, Senator Soroti Dugaan Pelanggaran HAM Perbesar

NABIRE — Seruan untuk menghentikan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil kembali menguat menyusul situasi konflik yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, sejak akhir Maret 2026.

Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Papua Tengah, Eka Kristina Murib Yeimo, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi dalam rangkaian konflik tersebut.

Ia menegaskan bahwa penggunaan senjata oleh aparat negara harus berlandaskan pada prinsip perlindungan terhadap masyarakat, bukan sebaliknya.

“Senjata adalah alat negara untuk melindungi masyarakat, bukan untuk melukai atau menghilangkan nyawa warga sipil,” tegasnya dalam pernyataan tertulis yang diterima di Nabire, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, pihak berwenang harus bertanggung jawab atas setiap tindakan yang berpotensi melanggar HAM, khususnya dalam penanganan konflik di Dogiyai yang telah menelan korban jiwa.

Berdasarkan berbagai informasi yang beredar di media massa dan media sosial, konflik dipicu oleh penemuan jenazah seorang anggota kepolisian bernama Juventus Edowai di Kampung Kimupugi pada 31 Maret 2026. Insiden tersebut kemudian memicu ketegangan antara aparat keamanan dan masyarakat.

Dalam perkembangan situasi sejak 31 Maret hingga 8 April 2026, dilaporkan sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia akibat tindakan penembakan oleh aparat keamanan. Hingga saat ini, belum ada kejelasan terkait pelaku utama di balik pembunuhan anggota polisi maupun aktor yang memicu eskalasi konflik.

Eka Kristina menekankan pentingnya keterlibatan semua elemen masyarakat dalam mengungkap kebenaran. Ia mendorong sinergi antara tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, aktivis HAM, serta pemerintah untuk bersama-sama mencari fakta yang objektif dan transparan.

“Semua pihak harus bekerja sama untuk mengungkap dalang di balik konflik ini, agar tidak terus menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya dugaan pembiaran terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua yang dinilai belum ditangani secara tuntas.

Lebih lanjut, ia berharap kasus ini dapat segera ditangani secara adil dan transparan oleh aparat penegak hukum, dengan mengedepankan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Penanganan yang tepat dinilai penting untuk mencegah konflik serupa terulang di masa mendatang.

Situasi keamanan di Dogiyai hingga kini masih menjadi perhatian berbagai pihak, seiring tuntutan masyarakat akan keadilan dan perlindungan hak asasi manusia. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tawuran di Jalan WR Supratman Dibubarkan, Lima Pemuda Diamankan

20 September 2026 - 09:40 WIB

IMG 20260920 WA0016

Operasi Antik Noken Sasar THM Mimika, Puluhan Pekerja Diperiksa

20 September 2026 - 09:30 WIB

IMG 20260920 WA0022

STEMI Siapkan Kebaktian Pembaruan Iman Bersama Stephen Tong di Nabire

20 September 2026 - 09:22 WIB

IMG 20260920 WA0021

Trifena M. Tinal Pimpin Golkar Mimika 2026–2031, Konsolidasi Organisasi Jadi Agenda Utama

20 September 2026 - 09:09 WIB

IMG 20260920 WA0085

Dinkes Mimika Mendekatkan Diagnosis TB ke Warga Pesisir dan Pedalaman Mimika

19 September 2026 - 16:02 WIB

IMG 20260919 WA0010
Trending di Headline