NABIRE – Melimpahnya stok telur ayam ras di Kabupaten Nabire belum mampu menurunkan harga jual di pasaran. Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire saat melakukan pemantauan harga dan stok pangan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Pasar Kalibobo dan peternakan ayam petelur di SP 1 Nabire, Rabu (17/6/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Yasor Victor Sawo, S.P., M.Si, mengatakan pasokan telur yang beredar di Nabire saat ini cukup besar, baik yang berasal dari peternak lokal maupun yang didatangkan dari luar daerah.
Data Dinas Ketahanan Pangan mencatat, pasokan telur dari Surabaya dan Makassar pada Mei 2026 mencapai 30,9 ton. Sementara hingga minggu ketiga Juni 2026, jumlah pasokan telah mencapai sekitar 14,25 ton.
Di sisi lain, kebutuhan konsumsi telur masyarakat Kabupaten Nabire mencapai sekitar 1.062.000 butir per bulan atau setara dengan 60 ton. Kondisi tersebut membuat pasokan dari luar daerah masih menjadi faktor penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meski stok cukup tersedia, harga telur di pasaran masih relatif tinggi. Telur produksi lokal grade A dijual sekitar Rp420 ribu per rak di tingkat peternak, sedangkan grade B sekitar Rp410 ribu per rak. Di tingkat eceran, harga mencapai Rp80 ribu per rak untuk grade A dan Rp70 ribu per rak untuk grade B.
Sementara telur yang didatangkan dari Surabaya dan Makassar dipasarkan dengan harga sekitar Rp355 ribu per rak.
Menurut Yasor, tingginya harga telur lokal tidak semata-mata dipengaruhi oleh ketersediaan stok, melainkan juga oleh tingginya biaya produksi yang harus ditanggung peternak.
“Faktor utama yang memengaruhi harga telur adalah mahalnya pakan ternak. Pakan menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi yang pernah terjadi di sejumlah daerah di Pulau Jawa, di mana peternak mengalami kesulitan akibat tingginya biaya produksi sehingga keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Nabire akan melakukan kajian lebih lanjut untuk mencari solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas harga di pasar dan keberlangsungan usaha peternak lokal.
Salah satu opsi yang akan dikaji adalah kemungkinan pemberian subsidi pakan ternak. Namun kebijakan tersebut memerlukan pendataan dan analisis yang matang terkait jumlah peternak, kapasitas produksi, serta kebutuhan riil di lapangan.
“Kalau ada kebijakan subsidi pakan, tentu harus melalui kajian teknis terlebih dahulu. Kita harus mengetahui jumlah peternak yang ada, kapasitas produksinya, dan kebutuhan yang sebenarnya,” jelas Yasor.
Saat ini, Dinas Ketahanan Pangan mencatat terdapat beberapa peternak ayam petelur skala besar yang menjadi pemasok utama telur di Nabire. Produksi dari peternak-peternak tersebut masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi masyarakat sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan.
Meski demikian, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendorong penguatan sektor peternakan lokal agar mampu meningkatkan produksi dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Kita ingin harga tetap stabil, masyarakat mendapatkan telur dengan harga yang terjangkau, tetapi peternak lokal juga tetap mendapatkan keuntungan yang layak sehingga usahanya bisa berkembang,” ujarnya. (MB)








