Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

News

Mersi Sundung: Pemerintah Jangan Jadikan Papua Lahan Bisnis, Hargai Hak Ulayat dan Alam

adminbadge-check


					Mersi Sundung: Pemerintah Jangan Jadikan Papua Lahan Bisnis, Hargai Hak Ulayat dan Alam Perbesar

TIMIKA – Rencana besar pemerintah pusat dalam mendorong industri kelapa sawit di tanah Papua demi swasembada energi mendapat sorotan tajam. Mantan Ketua Presidium PMKRI Timika periode 2022-2024, Mersi Sundung, mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah dan lebih mengedepankan kepekaan terhadap nasib masyarakat adat.

Menurut Mersi, hutan tropis Papua adalah harapan terakhir bagi keseimbangan ekosistem dunia. Ia menegaskan bahwa ambisi ekonomi nasional tidak boleh mengorbankan ruang hidup masyarakat yang sudah ada sejak turun-temurun.

Mersi menilai ada kekeliruan jika sawit dianggap sebagai jalan keluar ekonomi bagi warga lokal. Sebaliknya, kehadiran industri besar yang ekspansif justru dikhawatirkan menjebak masyarakat dalam kemiskinan baru karena kehilangan akses terhadap tanah dan hutan.

“Masyarakat Papua sudah berdaulat secara pangan dengan cara mereka sendiri. Mereka hidup dari umbi-umbian, sayur, dan sagu. Sawit bukan penopang hidup kami. Menghilangkan hutan berarti menghilangkan sumber kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Mersi Sundung saat dimintai keterangannya. Jumat, (19/12/2025).

Mersi menekankan bahwa Papua bukanlah tanah kosong yang bisa dikelola tanpa mempertimbangkan keberadaan penghuninya. Ia meminta Presiden beserta jajarannya untuk tidak mengambil langkah yang berisiko menimbulkan konflik sosial akibat hilangnya hak ulayat masyarakat adat.

“Presiden jangan sampai membawa petaka baru. Papua jangan hanya dilihat sebagai lahan bisnis untuk keuntungan korporasi besar. Pemerintah harus hadir untuk menjaga alam, bukan menyerahkannya kepada kepentingan kapitalis yang mengorbankan hutan tropis kita,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mersi menyoroti bahwa yang saat ini paling dibutuhkan di Papua adalah penyelesaian isu kemanusiaan dan konflik yang tak kunjung usai. Ketegangan di daerah konflik dan nasib para pengungsi harusnya menjadi prioritas utama negara, bukan justru menambah beban masalah dengan pembukaan lahan sawit besar-besaran.

“Dibutuhkan kepekaan pemerintah pusat untuk menyelesaikan persoalan pengungsian dan ketakutan masyarakat di daerah konflik. Lindungi hak hidup dan hak ulayat kami, itu jauh lebih berharga daripada izin-izin industri,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Dinkes Kabupaten Mimika Perkuat Data Kebutuhan Nakes 

17 Juni 2026 - 13:41 WIB

IMG 20260617 WA0028

BPJS Kesehatan Mimika Sosialisasikan Kepesertaan JKN bagi Relawan SPPG di Papua Tengah

17 Juni 2026 - 13:36 WIB

IMG 20260617 WA0014

Pemkab Nabire Soroti Kenaikan Harga Telur, Bawang Merah dan Cabai Rawit

17 Juni 2026 - 13:31 WIB

IMG 20260617 WA0021

Mahalnya Pakan Ternak Berdampak Harga Telur di Nabire Tinggi 

17 Juni 2026 - 13:21 WIB

IMG 20260617 WA0024

Wagub Papua Tengah Tekankan Disiplin ASN dan Percepatan Penyerapan Anggaran dalam Apel Gabungan

17 Juni 2026 - 12:03 WIB

IMG 20260617 WA0109
Trending di Headline