Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

News

Pemda di Papua Tengah Diwajibkan Kuatkan Masyarakat Adat dan Living Law

adminbadge-check


					Pemda di Papua Tengah Diwajibkan Kuatkan Masyarakat Adat dan Living Law Perbesar

NABIRE – Pemerintah Daerah (Pemda) di Provinsi Papua Tengah didorong untuk segera melakukan penguatan terhadap masyarakat adat, termasuk dalam penerapan hukum adat atau living law di wilayah mereka. Hal ini disampaikan oleh Sjamsul Hadi, SH, MM, Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan.

Arahan tersebut disampaikan Sjamsul Hadi dalam Hearing Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRPT) dan Seminar bertajuk “Memposisikan Living Law dalam Peradilan Adat,” yang merupakan kerja sama antara DPRPT dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Mimika, di Timika, Kamis (12/12).

Sjamsul Hadi menguraikan beberapa langkah strategis yang perlu segera diimplementasikan oleh Pemda di Papua Tengah, di antaranya:

  • Pemetaan dan Inventarisasi hukum adat secara partisipatif di wilayah adat.

  • Penetapan Resmi Masyarakat Hukum Adat.

  • Pemetaan wilayah adat.

  • Penyusunan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus/Perdasi) terkait masyarakat adat dan hukum adat.

  • Pembangunan Pusat Dokumentasi hukum adat.

  • Penguatan Kapasitas Aparat Daerah dan Lembaga Adat dalam penerapan living law, seperti pelatihan teknik mediasi adat dan pelaksanaan putusan adat.

Dalam konteks penegakan hukum, Sjamsul Hadi menekankan bahwa tidak semua tradisi dapat serta merta dijadikan dasar pidana. Ia memaparkan beberapa syarat penting agar norma adat dapat diakui dan menjadi dasar pidana, sesuai dengan amanat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru:

  1. Harus Benar-Benar Hidup (Living): Norma tersebut harus nyata-nyata hidup dan dipatuhi oleh masyarakat secara konsisten.

  2. Menjadi Pedoman Sosial: Bukan hanya tradisi historis, melainkan pedoman yang berlaku dalam kehidupan sosial sehari-hari.

  3. Tidak Bertentangan dengan HAM dan Prinsip Nasional:

    • Tidak boleh mendiskriminasi.

    • Tidak boleh mengandung kekerasan ekstrem.

    • Tidak boleh melanggar hak dasar warga negara.

  4. Ditetapkan dalam Peraturan Daerah: Pemidanaan tidak boleh hanya berdasarkan “katanya adat” untuk menghindari praktik kesewenang-wenangan.

Sjamsul Hadi mengakhiri materinya dengan mengingatkan bahwa KUHP mewajibkan adanya Peraturan Daerah yang secara jelas mengatur mengenai bentuk norma, jenis larangan, sanksi dan kewajiban, wilayah hukum adat, serta tata cara penyelesaian adat. Kewajiban ini adalah kunci untuk memastikan kepastian hukum dan menghindari penyalahgunaan dalam peradilan adat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Meninggal Akibat Kondisi Kesehatan, Pria 45 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Dilantai

6 November 2026 - 07:17 WIB

IMG 20261106 WA0010

DPO Kasus Penembakan Brigpol Ronald Enok Ditangkap di Puncak Jaya, Seorang Warga Ikut Diamankan

6 November 2026 - 07:11 WIB

IMG 20261106 WA0007

Perkuat Tata Kelola Organisasi, KINGMI di Tanah Papua Gelar Sosialisasi AD/ART di Deiyai

6 November 2026 - 07:07 WIB

IMG 20261106 WA0005

Polres Mimika Perkuat Benteng Pencegahan Narkoba Lewat Dua Posko Bersinar

6 November 2026 - 05:41 WIB

IMG 20261106 WA0019

211 Warga Pasar Sentral Terima Bantuan Pangan, Leni Tonglo Pastikan Tepat Sasaran

6 November 2026 - 05:38 WIB

IMG 20261106 WA0016
Trending di News