Menu

Mode Gelap
DPD RI Sampaikan Respons atas Situasi Keamanan Papua, Dorong Penyelesaian Menyeluruh Natalius Pigai Soroti Insiden Berdarah di Papua Tengah, Minta Penyelidikan Menyeluruh Menteri HAM Tolak Pelaporan Jusuf Kalla, Dorong Penyelesaian Lewat Dialog Senator Papua Tengah Wilhelmus Pigai Soroti Temuan BPS: Penyaluran Bansos Harus Ketat Sesuai Kriteria Breaking News : Ruang Terpadu RSUD Paniai Terbakar Hangus DPD RI Dorong Percepatan RUU Bahasa Daerah, Ratusan Bahasa Terancam Punah

News

Ibu Hamil di Papua Meninggal Dunia Diduga Ditolak RS, Komite III DPD RI Desak Evaluasi Pelayanan

adminbadge-check


					Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma Perbesar

Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma

JAKARTA – Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menyoroti kasus kematian seorang ibu hamil, Irene Sokoy, beserta bayi dalam kandungannya di Sentani, Papua. Korban dilaporkan meninggal dunia setelah diduga mengalami penolakan dari sejumlah rumah sakit saat membutuhkan penanganan medis darurat.

​Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, merespons peristiwa tersebut dengan meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.

​Berdasarkan laporan yang diterima, korban sempat dibawa ke beberapa fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan. Namun, pihak keluarga menghadapi kendala dalam mengakses layanan medis. Beberapa alasan yang dikemukakan pihak rumah sakit antara lain ketidaktersediaan dokter spesialis, keterbatasan fasilitas medis, hingga penuhnya ruang rawat inap kelas III bagi peserta BPJS Kesehatan.

​Di sisi lain, upaya keluarga untuk memindahkan pasien ke fasilitas kelas VIP terkendala oleh biaya. Akibat situasi tersebut, penanganan medis terhadap pasien menjadi tertunda hingga akhirnya korban dan bayi yang dikandungnya dinyatakan meninggal dunia.

​Menanggapi hal ini, Filep Wamafma menyatakan bahwa akses kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus diprioritaskan, terutama dalam kondisi gawat darurat. Ia menekankan pentingnya peran dana Otonomi Khusus (Otsus) dalam menjamin akses kesehatan bagi Orang Asli Papua (OAP).

​”Saya prihatin dengan kejadian ini. Akses kesehatan itu kebutuhan dasar, apalagi di kondisi darurat yang berhadapan dengan nyawa. Kejadian ini harus mendapat perhatian dan didalami secara khusus,” ujar Filep dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/11/2025).

​Filep mendesak pemerintah daerah untuk lebih memfokuskan anggaran pada sektor kesehatan guna mencegah terulangnya kasus serupa. Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam manajemen rumah sakit agar prosedur administrasi tidak menghambat penanganan pasien kritis.

​”Ketika masyarakat dalam keadaan kritis namun terkendala kondisi kurangnya dokter spesialis atau penuhnya kamar, ini menjadi catatan serius. Pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan berjalan taktis dan tidak berbelit,” tambahnya.

​Komite III DPD RI menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini dan mendorong adanya tindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian dalam pelayanan publik tersebut.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pokja PAUD Kabupaten Paniai Gelar Pembekalan TIM dan Fokus Materi Meningkatkan Kapasitas

22 April 2026 - 14:25 WIB

IMG 20260422 WA0051

Silwanus Sumule: Propemperda 2026 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Papua Tengah 

22 April 2026 - 14:11 WIB

IMG 20260422 WA0043

Seleksi Administrasi Calon Pimpinan BAZNAS Papua Tuntas Diverifikasi

22 April 2026 - 11:37 WIB

IMG 20260422 WA0010

Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

22 April 2026 - 11:30 WIB

IMG 20260421 WA0039

Pemkab Mimika Evaluasi Layanan Publik, Wabup Tekankan Kepercayaan Masyarakat

22 April 2026 - 11:26 WIB

IMG 20260422 WA0030
Trending di Headline