Menu

Mode Gelap
Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku

News

Akar Masalah Papua Mendesak Diselesaikan, Fokus Ekonomi Saja Tak Cukup!

adminbadge-check


					Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, Perbesar

Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma,

Jakarta – Pemerintah didesak untuk memfokuskan penanganan secara komprehensif terhadap akar masalah Papua, menyusul kondisi keamanan yang dikhawatirkan masih rentan, khususnya di wilayah Pegunungan Tengah dan Papua Barat. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Filep Wamafma, menyatakan bahwa langkah pemerintah saat ini belum menyentuh substansi dasar konflik yang berkepanjangan.

Filep Wamafma, yang juga menjabat sebagai Sekretaris MPR for Papua, mengapresiasi berbagai upaya pembangunan ekonomi dan kebijakan afirmasi seperti pembentukan Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP). Namun, ia menegaskan bahwa fokus pada aspek ekonomi belum mampu menghentikan jatuhnya korban dari kalangan sipil hingga aparat keamanan.

“Situasi saat ini masih banyak korban berjatuhan baik dari warga sipil, aparat keamanan (TNI-Polri), tenaga pendidik, maupun kesehatan. Jadi menurut saya selaku senator Papua Barat, dari masa pemerintahan reformasi hingga saat ini belum ada formula penyelesaian yang konkret,” ujar Filep. melalui keterangan tertulis, Sabtu, 1 November 2025.

Salah satu indikator bahwa akar masalah belum terselesaikan adalah lambatnya realisasi keadilan hukum terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua. Filep menyoroti kasus pelanggaran HAM Berat yang rekomendasinya telah disampaikan oleh Komnas HAM kepada Kejaksaan Agung.

“Bagaimana realisasinya? Ini yang kita tunggu wujud nyatanya, harus memberikan rasa keadilan,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan dan membuka ruang dialog yang lebih spesifik untuk membahas isu HAM dan disintegrasi bangsa. Filep juga menggarisbawahi pentingnya menggunakan hasil riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai acuan dalam merumuskan solusi konflik.

Menurut Filep, jika masalah mendasar tidak diselesaikan, wilayah Papua akan terus berada dalam “zona tidak nyaman” yang menghambat pembicaraan serius mengenai kesejahteraan.

Mencontoh keberanian Presiden dalam menangani konflik internasional, Filep berharap Presiden saat ini dapat segera menunjukkan aksi konkret di Papua. Ia berharap lembaga yang telah dibentuk, seperti komite terkait Otsus, dapat berperan aktif sebagai jembatan bagi pihak-pihak yang berkonflik.

“Jika keamanan terganggu, bagaimana bicara soal kesejahteraan,” tutupnya, menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah penyelesaian konflik yang berakar dari ketidakadilan historis.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Dinkes Kabupaten Mimika Perkuat Data Kebutuhan Nakes 

17 Juni 2026 - 13:41 WIB

IMG 20260617 WA0028

BPJS Kesehatan Mimika Sosialisasikan Kepesertaan JKN bagi Relawan SPPG di Papua Tengah

17 Juni 2026 - 13:36 WIB

IMG 20260617 WA0014

Pemkab Nabire Soroti Kenaikan Harga Telur, Bawang Merah dan Cabai Rawit

17 Juni 2026 - 13:31 WIB

IMG 20260617 WA0021

Mahalnya Pakan Ternak Berdampak Harga Telur di Nabire Tinggi 

17 Juni 2026 - 13:21 WIB

IMG 20260617 WA0024

Wagub Papua Tengah Tekankan Disiplin ASN dan Percepatan Penyerapan Anggaran dalam Apel Gabungan

17 Juni 2026 - 12:03 WIB

IMG 20260617 WA0109
Trending di Headline