Rio de Janeiro – Indonesia menorehkan sejarah baru dalam diplomasi global. Untuk pertama kalinya, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung sebagai anggota penuh BRICS, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang digelar di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil.
Momentum ini menjadi debut penting bagi Indonesia yang resmi bergabung sebagai anggota tetap BRICS sejak 1 Januari 2025. Sejak itu, Indonesia telah aktif dalam lebih dari 165 pertemuan BRICS, termasuk 20 pertemuan tingkat kementerian.
Kehadiran Dihormati, Sambutan Penuh Kehangatan
Setibanya di lokasi, Prabowo disambut dengan jajaran pasukan kehormatan Brasil. Ia tiba mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan peci, melangkah gagah di atas karpet merah, diapit pasukan Brasil yang memegang tombak seremonial — simbol penghormatan tertinggi untuk kepala negara.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, selaku tuan rumah, menyambut Prabowo dengan pelukan hangat dan senyum bersahabat. Momen tersebut diabadikan dalam jepretan kamera saat kedua pemimpin berjabat tangan erat di depan backdrop bertuliskan BRICS Brazil 2025.
Ucapan Khusus Presiden Lula untuk Prabowo
Dalam pidato pembukaannya, Presiden Lula secara khusus menyebut kehadiran Prabowo sebagai bagian penting dari wajah baru BRICS.
“Saya hendak menyampaikan ucapan selamat datang khususnya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam Konferensi BRICS sebagai anggota penuh,” ujar Lula, disambut tepuk tangan peserta konferensi.
Jalin Komunikasi Global di Leaders’ Lounge
Usai upacara penyambutan, Prabowo bergabung dalam Leaders’ Lounge, tempat eksklusif bagi para pemimpin dunia untuk bertukar pandangan singkat seputar tantangan global dan isu strategis. Ia juga mengikuti sesi foto resmi bersama para kepala negara dan delegasi utama.
Dalam sesi tersebut, Presiden Prabowo tampak berdiri berdampingan dengan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Khaled bin Mohamed Al Nahyan, mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam tatanan geopolitik baru.








