NABIRE — Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, kembali menegaskan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat Papua untuk keluar dari mentalitas ketergantungan dan budaya minta-minta. Hal itu ia sampaikan saat membuka Musyawarah Provinsi I Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Papua Tengah di Auditorium RRI Nabire, Senin (30/6/2025).
Dalam sambutannya, Nawipa menyoroti realitas banyak masyarakat yang masih terjebak dalam pola pikir “proposal”, yakni mengandalkan permintaan dana atau bantuan ke pemerintah tanpa upaya membangun usaha secara mandiri.
“Kita harus keluar dari perbudakan proposal. Harus keluar dari mental minta-minta. Selama ini politisi seperti saya lebih senang kasih uang supaya dipilih lagi. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah, hanya melanggengkan ketergantungan,” tegas Nawipa.
Ia menilai, kunci kemandirian ekonomi terletak pada perubahan pola pikir dan keberanian masyarakat Papua menjadi pelaku usaha, bukan sekadar berharap pada proyek atau jabatan.
“Saya sering lihat orang datang bawa proposal, minta ini, minta itu. Tapi hidupnya sendiri susah, beli motor atau sepeda saja tidak bisa. Bagaimana mau bicara banyak soal masa depan?” ujarnya.
Nawipa juga mengingatkan, keberhasilan menjadi pengusaha tidak bisa diraih sendirian, apalagi hanya mengandalkan koneksi politik. Menurutnya, orang Papua harus belajar kolaborasi, membangun usaha bersama, dan memahami sistem bisnis formal yang sehat.
“Kita harus rubah cara-cara lama. Jangan terus jadi kontraktor yang hanya tergantung penguasa. Jadikan itu batu loncatan untuk membangun bisnis riil yang mandiri,” kata Nawipa.
Gubernur juga menyinggung soal pentingnya transparansi, pengelolaan administrasi keuangan, dan prinsip tanggung jawab. Ia mengaku sejak muda sudah membiasakan diri mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, bahkan hingga ke pembelian sabun atau makanan.
“Jadi pengusaha itu harus kuat administrasi, kuat manajemen, baru usaha bisa jalan. Lupakan mentalitas sombong, semua harus pakai data dan perencanaan yang jelas,” ungkap Nawipa.
Ia juga mengajak anak-anak muda Papua, termasuk lulusan luar negeri, untuk berani membuka usaha sendiri dan memanfaatkan potensi ekonomi yang besar di Papua Tengah, alih-alih mengejar karir sebagai pegawai negeri.
“Kamu sekolah sampai Amerika, pulang cuma jadi pegawai negeri? Itu mimpi yang bolong. Lebih baik buka usaha, atau kerja di luar negeri, cari pengalaman, baru bangun negeri ini,” katanya.
Musprov I APINDO Papua Tengah ini disebut Nawipa sebagai momentum penting untuk memperkuat peran pengusaha lokal dalam pembangunan daerah, serta mendorong masyarakat Papua Tengah keluar dari ketergantungan dan menjadi lebih mandiri secara ekonomi.
“APINDO bukan organisasi biasa. Ada Freeport, Korindo, semua bagian dari sini. Mari kita manfaatkan jaringan ini untuk membangun kemandirian ekonomi di Papua Tengah,” tutup Nawipa. (MB)






