NABIRE – Bupati Nabire, Mesak Magai, menyoroti sejumlah isu strategis dalam pidatonya pada apel gabungan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire yang digelar awal Mei 2025. Dalam suasana peringatan ulang tahunnya, Bupati menyampaikan tantangan pemulihan ekonomi masyarakat serta menanggapi wacana pemekaran wilayah Kabupaten Nabire.
Menurut Bupati, sektor pertanian mengalami kemunduran akibat kekhawatiran masyarakat terhadap situasi keamanan.
“Kita kekurangan produksi cabai, bawang merah, dan bawang putih karena masyarakat takut berkebun. Ada ancaman pembunuhan dan rasa tidak aman yang membuat petani berhenti bekerja,” ujar Mesak.
Namun, ia menyampaikan bahwa kondisi perlahan mulai membaik. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan potensi desa dan tidak hanya bergantung pada kota.
“Nabire ini tempat pakai uang, bukan tempat cari uang. Uang itu dicari di kampung lewat kebun. Jangan pakai uang togel, uang pala, tapi dari hasil kebun sendiri,” tegasnya.
Mesak mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar Rp12 triliun uang beredar di Nabire, baik dari anggaran pemerintah maupun lembaga keuangan. Ia mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perputaran ekonomi, melainkan turut berperan sebagai pelaku utama.
“Pertanian dan perkebunan adalah sektor yang menjanjikan. Masyarakat harus terlibat langsung agar Nabire bisa bangkit,” tambahnya.
Terkait wacana pemekaran wilayah, Mesak menyatakan bahwa Pemerintah Daerah masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat.
“Kalau terjadi pemekaran, kita patut bersyukur. Tapi pusat akan mempertimbangkan kesiapan anggaran dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang bagi Nabire untuk menjadi Kota Madya jika memang telah memenuhi syarat kepadatan penduduk dan luasan wilayah.
“Kalau berkat Tuhan jatuh di Nabire, kita akan sesuaikan wilayah administratif sesuai perkembangan,” katanya.
Bupati turut menyinggung tentang penetapan beberapa kampung sebagai kampung adat melalui Peraturan Bupati.
“Kampung adat seperti Samabusa akan memiliki mekanisme sendiri dalam pemilihan kepala kampung, berdasarkan kesepakatan suku asli,” jelas Mesak.
Acara ditutup dengan kebersamaan dalam sesi makan bersama dan hiburan. Salah satu momen menarik adalah penampilan Abraham Yeimo, artis cilik berusia 6 tahun, yang menghibur para tamu. Sebagai bentuk apresiasi, Bupati Mesak Magai memberikan hadiah sebesar Rp10 juta kepada Abraham.(MB)






