TIMIKA – Pemilihan Umum secara serentak akan berlangsung 27 November 2024 mendatang.
Di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, ada tiga Pasangan calon (Paslon) Bupati dan wakil bupati Mimika, masing-masing Johannes Rettob – Emanuel Kemong, Maximus Tipagau – Peggi Patricia Pattipi dan Alexander Omaleng – Yusuf Rombe,akan berkompetisi pada pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Termasuk empat Paslon calon Gubernur Papua Tengah masing-masing Jhon Wempi Wetipo-Agustinus Anggaibak, Natalis Tabuni-Titus Natkime, Meki Nawipa-Deinas Galey dan Wilem Wandik-Aloisius Giay.
Berbagai dukungan untuk Paslon datang dari berbagai pihak. Salah satunya dari tokoh agama.
Hal ini mendapat sorotan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama( FKUB) Kabupaten Mimika, Jeffry C. Hutagalung.
Jeffry C. Hutagalung menegaskan dan mengimbau agar tokoh agama sebaiknya tidak membawa atribut keagamaan atau kelembagaan ke ranah politik praktis.
Hal ini dinilai penting untuk menjaga netralitas dan mencegah munculnya persepsi yang kurang baik di tengah masyarakat.
“Kecuali kalau tokoh agama datang secara personal, itu tidak masalah. Tapi persoalannya adalah dukungan yang muncul dari dirinya sebagai tokoh agama, itu yang menjadi permasalahan,” ujar Jeffry saat ditemui disalah satu hotel di jalan Yos Sudarso, Rabu (20/11/2024).
Bahkan Ia menyebutkan dirinya telah melihat beberapa indikasi keterlibatan tokoh agama melalui postingan media sosial.
“Bukan laporan formal, tapi ada beberapa postingan yang saya lihat, dan wajah-wajah mereka nampak jelas. Kehadiran mereka itu bisa dianggap sebagai dukungan kepada pasangan calon tertentu,” jelasnya.
Menurutnya, meskipun bukti konkret dapat dicari lebih lanjut, kehadiran tokoh agama dalam kapasitas tertentu berpotensi menimbulkan kesan kurang baik di tengah umat yang mereka pimpin.
“Misalnya, saya sebagai tokoh agama mendukung calon A, sedangkan umat saya mendukung calon B. Hal ini bisa menciptakan preseden yang tidak harmonis,” tegasnya.
Karenanya ia mengimbau tokoh agama di Mimika, untuk tetap menjaga integritas dan menjadi teladan bagi umat dan berharap proses demokrasi berjalan dengan damai, tanpa polemik yang dapat merusak keharmonisan kerukunan umat beragama yang sudah terjalin baik di Mimika. (Mercy)






