Menu

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa

News

Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua

adminbadge-check


					Lebih Berbahaya dari KKB, Polisi Ungkap Kemunculan Kelompok Kriminal Politik di Papua Perbesar

JAYAPURA – Kepolisian mengungkap kemunculan kelompok baru yang dinilai lebih mengancam stabilitas di Papua. Kelompok tersebut bukan bersenjata, melainkan bergerak di ranah ideologi dan politik. Mereka disebut sebagai Kelompok Kriminal Politik (KKP).

Wakapolda Papua yang juga Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa KKP menyebarkan paham separatisme Papua merdeka melalui propaganda intelektual dan wacana politik. Meski tidak menggunakan senjata api seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dampak yang ditimbulkan KKP disebut bisa jauh lebih berbahaya.

“Kalau ini tidak ditangani secara serius, mereka bisa menumbuhkan simpati baru dari berbagai kalangan, termasuk yang awalnya netral. Dan itu jauh lebih berbahaya,” kata Faizal, dikutip dari detikSulsel, Jumat (18/7/2025).

Menurutnya, KKP menyasar ruang-ruang kesadaran publik, terutama di kalangan intelektual muda, mahasiswa, dan masyarakat sipil yang kecewa dengan situasi sosial dan politik. Mereka menggunakan narasi-narasi ideologis dan sejarah Papua untuk membangun opini yang memicu disintegrasi.

“Kalau KKB menyerang dengan senjata, maka KKP menyerang lewat pemikiran dan wacana politik,” jelasnya.

Faizal menambahkan, pendekatan keamanan semata tak cukup untuk menangani dinamika konflik di Papua. Diperlukan paradigma baru yang mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ideologi.

“Permasalahan Papua tidak hanya soal senjata. Ada ketimpangan pembangunan, luka sejarah, dan keterbatasan akses. Maka penyelesaiannya harus komprehensif, tidak bisa parsial,” ujarnya.

Pernyataan ini menandakan perlunya strategi yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam menjaga stabilitas di Bumi Cenderawasih, terutama menghadapi ancaman non-fisik yang kini mulai menguat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sambut HUT ke-30, Pemkab Mimika Siapkan Refleksi dan Doa Bersama

14 September 2026 - 11:25 WIB

IMG 20260914 WA0010

Gubernur Meki Minta LMA Jadi Jembatan Masyarakat Adat dan Pemerintah

14 September 2026 - 11:18 WIB

IMG 20260914 WA0024

Lenis Kogoya Desak Pembebasan Korban Penyanderaan di Mimika, Serukan Hentikan Pembunuhan Warga Sipil

14 September 2026 - 10:47 WIB

IMG 20260914 WA0020

Pelantikan LMA Korwil Papua Tengah, Lenis Kogoya Dorong Penguatan Peran Masyarakat Adat

14 September 2026 - 10:26 WIB

IMG 20260914 WA0016

Rumah Mantan Kabag Ren Deyai Dibobol Saat Keluarga Pergi Arisan, Kamera Canon Raib

14 September 2026 - 10:20 WIB

IMG 20260914 WA0008
Trending di Headline